27.4.10

Sabar, Ikhlas dan Tawakal

Kehidupan manusia dapat diibaratkan sebagai perjalanan panjang yang sejatinya tidak pernah mulus begitu 
saja. Tanjakan, turunan, persimpangan, bahkan jalan yang terjal dan berliku pun tidak jarang kita lalui untuk mencapai tujuan kita. Dalam kondisi nyata, setiap kesulitan-kesulitan yang menjadi penghalang tersebut merupakan kekurangan-kekurangan yang kita miliki maupun masalah-masalah yang selalu datang menimpa kita. Ya, untuk mencapai suatu tujuan, baik itu kecil ataupun besar, kita akan selalu menghadapi tantangan dalam mencapainya.



“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Q.S. Al-Ankabuut: 2)

Pertanyaan yang muncul kemudian, salahkah seseorang jika dia mempunyai masalah dan kekurangan? Tidak, tidak sama sekali. Sudah sewajarnya manusia yang hidup di muka bumi ini memiliki suatu kekurangan dan mendapatkan suatu hambatan atau masalah. Bahkan, kita tidak bisa jamin, manusia yang sudah wafat pun sudah terbebas dari masalah-masalahnya. Namun, ini bukan persoalan memiliki atau tidak, melainkan bagaimana menyikapinya. Jangan sampai kita menyalahkan Allah karena dia telah menimpakan segala keburukan itu kepada kita.


-------


Cobalah kita tengok sedikit sebuah cerita inspiratif di bawah ini sebagai ilustrasi,
Tersebutlah sebuah cerita tentang seorang raja yang memiliki seorang patih bijak. Patih bijak ini selalu mengikuti sang raja kemanapun sang raja pergi, dan kata-kata kesukaannya adalah, “semua hal terjadi karena ada maksud baiknya.” Suatu hari sebelum pergi berburu, sang raja mengasah tombaknya dan, tanpa sengaja, ia melukai ibu jari tangannya sendiri. Sang raja sambil mengerang kesakitan bertanya kepada patih tentang kejadian tersebut. Sang patih kemudian menjawab, “semua hal terjadi karena ada maksud baiknya.” Kali ini, sang raja benar-benar emosi dan marah kepada sang patih, hingga akhirnya ia menghukum sang patih dengan memasukkan ke dalam penjara. Raja kemudian bertanya dengan sinis kepada sang patih, “sekarang apa yang kau pikirkan Patih?” Sang patih kembali menjawab, “semua hal terjadi karena ada maksud baiknya.” Akhirnya, patih tersebut benar-benar dimasukkan ke dalam penjara.

Sang raja kemudian pergi berburu ke hutan, kali ini tanpa didampingi oleh sang patih. Namun karena tanpa bantuan sang patih, raja agak kesulitan mendapatkan buruannya sendirian. Tanpa disadarinya, sang raja terus mencari buruan hingga memasuki wilayah di luar kekuasaan sang raja. Sialnya, wilayah itu dikuasai oleh suku kanibal yang gemar menyantap daging manusia.

Ketika sedang sibuk mencari buruan, sang raja ditangkap oleh suku kanibal penghuni hutan. Akhirnya raja dihadapkan pada suatu pesta makan malam yang dipimpin langsung oleh kepala suku. Sebelum dipanggang dan dimakan, kepala suku berkenan memeriksa terlebih dahulu kondisi calon santapannya, dan ternyata ia membebaskan raja tersebut dari pesta makan malam dan tidak jadi dipanggang. Kenapa? Karena peraturan suku tersebut melarang memakan manusia yang memiliki cacat di tubuhnya, maka bebaslah sang raja.

Sang raja kemudian teringat apa yang dikatakan oleh sang patih, “semua hal terjadi karena ada maksud baiknya.” Ia merenung bahwa apa yang dikatakan oleh patihnya tersebut memang benar. Kemudian dia bergegas menemui patihnya yang sedang mendekam di penjara.

Sang raja berterima kasih pada sang patih dan berjanji akan segera membebaskannya. Namun, ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan besar bagi sang raja, “mengapa engkau berkata yang sama ketika aku jebloskan kau ke dalam penjara?” Dengan tersenyum, sang patih berkata, “pada saat itu saya belum tahu, tetapi sekarang saya telah mendapat jawabannya. JIka hari itu saya ikut dengan paduka raja berburu, pastilah saya yang akan menjadi santapan suku kanibal tersebut.


--------


Sama seperti cerita tersebut, alangkah baiknya ketika kita dapat menyikapi suatu kekurangan dan masalah yang menimpa diri kita dengan berpikir positif terhadapnya. Dan ternyata hal tersebut pun telah diajarkan oleh Islam. Allah berfirman dalam salah satu ayat dalam Qur’an:



“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan, boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Ayat tersebut memerintahkan kaum muslimin pada saat itu untuk wajib turun ke medan perang, walau banyak dari mereka yang tidak menyukai pertempuran. Siapa yang suka tergores badannya, terpotong tangannya, atau bahkan terpenggal kepalanya? Saat itu peperangan dirasakan sebagai masalah atau kondisi yang tidak membuat kaum muslimin nyaman. Namun di balik itu semua, ternyata peperangan mengandung maksud yang jauh lebih baik. Memuliakan nama Islam atau meninggal dalam syahid, dua pilihan yang sungguh bernilai tinggi. Di balik semua hal pahit yang terjadi dalam peperangan, Allah mengganti itu semua dengan kebaikan-kebaikan yang nilainya sangat besar.

Walau ayat tersebut bicara dalam konteks peperangan, hal tersebut juga berlaku pada semua kejadian yang terjadi pada hidup kita. Terkadang kita tidak menyadari bahwa setiap hal buruk dan masalah yang kita alami mengandung maksud baik di dalamnya. Janganlah mencari-cari siapa yang perlu disalahkan, tapi coba lihat hikmah apa yang dapat kita petik dari setiap masalah yang kita hadapi. Kita perlu membuka mata lebih lebar dan melapangkan hati sehingga dapat melihat semuanya secara positif. Sikap ini merupakan sikap yang paling tepat dalam menyikapi masalah-masalah yang datang silih berganti.

Ketika kita mencoba menyikapi sebuah masalah dan kekurangan dengan sudut pandang yang lebih positif, hati kita tentu akan menjadi lebih tenang. Dan yakinlah, bahwa setiap kejadian yang terjadi pada diri kita, pasti ada maksud baik yang ingin Allah ajarkan melaluinya.
Wallahua’lam bishshawab


Source : Kak Atha's

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi hari gue buka facebook. Lansung liat notifications. Dan kaget liat nama kak Atha. Ada durian runtuh!! Gue langsung berpikir gitu. Ada apa kok tiba-tiba di notif ada gituan. Pas diliat, ternyata dia nge-tag notes ini. Gue baca dan gue hayati apa sih yang mau dikasih tahu sama dia. Ternyata, hal yang dikasih tau adalah hal yang selama ini jadi masalah gue.

Gue kadang suka mengeluh. Kadang gue sering menyerah dan menangis di depan buku. Suka stress sendiri. Tapi nggak berani komentar apa-apa, itu pun di dalam sholat gue selalu berdoa diberikan jalan keluar yang terbaik, itu aja. Gue nggak pernah (berani) menyalahkan apa yang terjadi di diri gue.

Di masa yang gue alami sekarang, setiap detik penuh derita. Dulu gue nggak terbayang bakal mengalami hal kayak  gini. Tidur kurang hanya untuk belajar, belajar, belajar dan belajar. Walaupun gue bisa bermain, sesaat nantinya gue bakal nangis lagi menyesali tiap menit dan detik yang gue buang percuma tanpa memperoleh ilmu apa-apa.

Tapi seperti di notes yang diatas, ambillah sisi positifnya. Tawakal. Ikhtiar. Husnudzon lah. Setiap yang Allah timpakan pada kita, pasti ada maksud dan tujuan. Juga pasti ada jalan keluarnya. Allah hanya menguji seberapa sabar hambanya, seberapa dalam dan kuat imannya. Walaupun berat, diujung sana, pasti ada sesuatu keberhasilan yang menunggu kita. Keberhasilan yang kita pupuk dari tiap koin kebaikan dan kesabaran yang kita tabung atas setiap cobaan yang Allah berikan.

Intinya sabar aja ya.

4 s'inscrire:

Putri Ariani said...

surprised nad baca tulisan lo!
di awal gue pikir "wets nadyaaa udah kayak ustad ajaa!"
eehh trnyata dari kak atha hihi
ciauuww ;)

Nadya Komanechi said...

-____- mana mungkin gue nulis beginian puuut ckck. emang ya kak atha pencerah jiwa hahaha. bagus nggak? bagus kan ya?
miaaauw miaaaw bentar lagi 1 mei nih

listrikdasar said...

good artikel..mantaps tap taps taps...

Nadya Komanechi said...

bukan sayaa kak, tapi orang hebat yang saya kenal. bagus yaa artikelnyaaa. :)