11.7.10

Seminar bersama Jusuf Kalla di FPsi UI

Hari kamis kemaren (8/7), gue datang ke Universitas Indonesia untuk menghadiri kuliah umum kemanusiaan dan seminar  yang diselenggarakan oleh Pusat Krisis (Puskris) Fakultas Psikologi UI tentang relawan penanggulangan bencana: menggerakkan kekuatan kepedulian bangsa. Walaupun gue bukan anak psikologi dan sama sekali nggak berminat dengan relawan dan aspek kerelawanan, setelah datang ke seminar ini mata hati gue jadi terbuka.




Kuliah umum ini dihadiri oleh mantan orang nomor dua negara Repulik Indonesia juga selaku ketua PMI, Drs. H. M. Jusuf Kalla. Selain itu juga datang Rektor Universitas Indonesia, Prof Dr der Soz Drs Gumilar Rusliwa Somantri sebagai penyambut kedatangan bapak wakil presiden. Selain itu juga ada para dekan dari fakultas psikologi, para petinggi PMI dan tokoh-tokoh penting lainnya yang datang karena tertarik dengan tema serta narasumbernya yang begitu hebat.


Dari seminar ini, gue mengambil beberapa poin penting tentang kerelawanan. Ternyata di Indonesia ini masih banyak masalah dengan sikap relawan serta arti relawan itu sendiri di masing-masing masyarakat untuk menanggapi. Banyak di antara mereka memanfaatkan sebutan relawan sebagai ajang pengambil hati masyarakat kecil, ada juga yang benar-benar murni ikhlas dari dalam hati untuk berbagi kebahagian bersama dengan mereka yang membutuhkan.


Di sini juga, gue jadi tambah tahu dengan apa yang di sebut PMI. Ternyata, PMI itu kerjanya nggak cuma donor dan mengumpulkan darah aja, walaupun memang sebagian besar kegiatan PMI adalah mencari stok darah yang minim di Indonesia. Selain mencari darah, PMI juga turut membantu dan terjun langsung ke daerah permukiman tempat terjadi bencana, melakukan pencegahan di tempat-tempat rawan bencana, memberikan edukasi serta pengenalan lebih kepada masyarakat yang rentan tertimpa bencana.
Ngomong-ngomong tentang darah, gue tertarik dengan kasus ini. Indonesia memiliki banyak penduduk, tapi di dalam seminar disebutkan bahwa PMI masih dan sering kekurangan jumlah kantung darah pertahunnya. Kadang kita semua nggak ngeh dan nggak tahu kalau di luar sana, ada orang yang benar-benar butuh darah kita untuk melanjutkan hidupnya. Hati gue bener-bener tersentuh dengan betapa mulianya niat PMI dalam menggalang pengumpulan darah, pengusahaan membuat kantung darah dalam negeri dan program-program palang merahnya.


Gue pribadi, takut banget sama jarum dan darah. Apalagi jarum buat donor besar dan pasti sakit banget. Darah kita juga di sedot gitu. Pasti rasanya sakit banget. Tapi, gimana kalau nanti gue kecelakaan atau melahirkan? di situ pasti gue butuh banget yang namanya darah secara gue udah banyak banget mengeluarkan darah. Rasa sakit emang nggak seberapa, sebegitu teganya kah gue sampai egois mementingkan diri sendiri yang takut suntik dan jarum sampai-sampai nggak mau berbagi darah buat menolong orang di luar sana? Selain gue bisa berbagi, gue juga semakin sehat karena katanya transfusi darah juga bisa membuat kita lebih sehat.



Setidaknya, di liburan gue kali ini gue mendapatkan pembelajaran moral dari seminar luar biasa yang iseng gue datengin dengan satu orang teman gue. Benar-benar pengalaman berharga duduk bareng mahasiswa beneran di kursi aula yang tinggi, di liput wartawan trans tv, dan mungkin muka gue di lihat sekilas oleh Bapak Jusuf Kalla, karena ruangan aula yang nggak begitu besar haha. Gue bisa melihat bagaimana mahasiswa di sana belajar dari seminar, apa-apa aja yang harus gue punya, harus gue pakai saat seminar, manner yang tepat saat seminar, dan masih banyak lagi hal yang sama sekali nggak gue dapet kalau gue nggak dateng ke seminar di kampus gue ini.


Satu momen yang bener-bener gue seneng adalah pas jam makan dan istirahat selesai, menunggu para pembicara datang, gue duduk dan bengong sampai bete nggak tau harus ngapain. Tiba-tiba di belakang gue ada bapak-bapak yang dari sesi awal udah gue perhatiin karena kulitnya putih banget, dapat telfon dan ngomong di telfon dengan bahasa korea! waaaah, rasanya benar-benar beda kalau denger percakapannya langsung daripada nonton lewat tv atau komputer. Di depan gue ada orang jepang asli, pas seminar asik otak-atik gadget dia. Rambut bapak itu lucu, lurus halus kayak dora dan sikapnya juga lucu. Mukanya lucu, jepang banget. Jadi gemes sama bapak-bapak itu pas dia geleng-geleng, rambutnya juga geleng-geleng haha. Terus meja di gedung itu ribet banget! Sumpah deh, kalau gue nggak hati-hati pasti barang-barang gue jatuh ke bawah karena engsel mejanya kebanyakan goyah dan rusak gitu. Banyak pengunjung seminar heboh karena barangnya jatuh. Pasti malu banget, tiap kali jatuh seluruh peserta heboh ngeliat siapa yang barangnya jatuh. Untung bukan gue ( " 3 " )


Ada lagi yang bikin gue tahan lama di seminar adalah wartawan dan fotografer yang datang untuk meliput mantan orang nomor dua ini. Mereka benar-benar patut diacungin jempol keberaniannya. Satu orang yang benar-benar menarik perhatian gue adalah satu orang fotografer yang entah dari mana, apakah koran kompas atau apa yang dengan berani hampir selama seminar di depan muka Jusuf Kalla dan mengambil gambarnya dengan flash kamera yang bukan main menyilaukan. Yang bikin gue lucu adalah, bapak JK ternyata bergaya juga di depan kamera haha. Dengan sengaja, kadang ia memainkan tangan atau berlagak senyum saat si fotografer siap dengan kameranya. Kadang juga fotografernya kocak. Benar-benar haus foto. Setiap gerakan unik langsung di foto. Bapak JK juga kalau ada kamera langsung cis hahaha. Asik banget liat mereka wakakak.


Akhir kata, karena ini postingan penting haha. Jangan takut donor darah dan jangan segan-segan meluangkan keberanian untuk membantu sesama. Ikhlaskan hati untuk menjadi seorang relawan sejati. Jangan jadi relawan yang hanya berniat mendapatkan sertifikat dan nggak tulus membantu aja. Yeah!

0 s'inscrire: