22.7.10

3 : 2


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »
“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Satu kutipan yang selalu gue ingat, yang membuat gue selalu berhati-hati dalam berucap, dalam bertindak dan dalam segala hal terhadap seorang ibu. Sebegitu pentingnya ibu karena dialah orang yang telah melahirkan gue, membesarkan gue dengan kasih sayangnya, walaupun sering gue buat kesel, menderita bahkan sedih, dia tetap sayang sama gue, anaknya yang paling membuat dia pusing di rumah. Dan tiga kali kata ibu dari mulut seorang rasullullah memang pantas menurutku, karena seorang ibu memang segala-galanya. Sampai sekarang, juga ada yang namanya hari ibu, tanggal 22 Desember, di mana hari itu, mereka (ibu-ibu) kita perlakukan lebih istimewa dari hari biasanya.

Tapi saat gue di angkot dalam perjalanan menuju sekolah, gue terenyuh hatinya saat sadar betapa mulianya seorang ayah. Yaa, ayah.

Di sepanjang perjalanan, hampir semuanya yang gue lihat sedang mengendara adalah bapak-bapak. Susah payah bermacat-macet di pagi hari demi ke tempat mencari nafkah untuk anak istri di rumah. Kalau bisa, kalau mampu, mereka bisa aja pergi ke tempat lain dan mencari kesenangan demi diri sendiri. Tapi pengorbanan mereka atas rasa tanggung jawab dan rasa sayang mengalahkan semua itu. Sol sepatu sebelah kanan para ayah yang mengendarai motor, ada yang gue liat udah tipis saking seringnya dia menurunkan kaki menahan berat motor di tengah kemacetan.

Saat itu juga, gue melihat bangku di jok belakang motor salah satu bapak bapak. dia dengan suka rela membocengi istrinya dan anaknya. kalau di ingat-ingat, menjadi seorang ayah, bahkan cowok pun nggak semudah yang selama ini gue kira ternyata. Seorang pria itu pasti memiliki jiwa berbagi yang sangat besar. Walaupun bukan seorang ayah, seorang pacar pun biasanya suka memboncengi kami, wanita. Membelikan kami barang, memberikan hadiah dan bermacam-macam hal. Kalau mereka sudah menjadi seorang ayah, seluruh hasil jerih payahnya nantinya untuk kami serta anak anak, bukan untuk dia bersenang-senang. Kami, wanita memiliki egoisme sendiri. Nggak seperti kaum pria.

Seberapapun nggak sukanya gue dengan ayah gue, seberapa keselnya gue dengan sikapnya yang keras kepala dan nyebelin, seberapa nggak maunya gue ngeliat mukanya yang mirip dengan gue, kadang gue pengen nangis di depan dia dan mau memeluk dia kalau ingat betapa sayangnya dia ke gue (dengan cara dia sendiri). Kadang kalau gue nonton bareng dengan keluarga di tv, nonton acara disney channel, ada beberapa adegan di mana anak bule suka memeluk ayahnya walaupun mereka sudah dewasa. kalau adegan seperti itu muncul, gue suka melengos geli dan merasa aneh ngebayangin gue seperti itu ke bokap sendiri.

Intinya, gue kagum dengan kelapangan hati dan jiwa mereka untuk berkorban demi anak dan istrinya. Entah kenapa, kalau ingat kutipan di atas, ingin gue tambahin satu kata ayah, karena untuk zaman sekarang, tanpa ayah, kami bukan apa-apa. Intinya, jadi 3 : 2 :D I love them, mom and dad <3

0 s'inscrire: