30.5.10

Hachiko : A dog's story

Kemarin, saking nggak ada kerjaan di rumah. Saking malesnya liat tampilan facebook sendiri, saking malesnya melakukan rutinitas yang membosankan, akhirnya gue dengan semangat empat puluh lima ke toko dvd bajakan terdekat dan membeli semua film bajakan yang nggak bisa gue tonton di bioskop karena kesibukan kelas tiga gue. Akhirnyaa!! Gue mulai lagi kehidupan remaja gue, hahahaha.

Yang pertama gue beli adalah Hachiko. Kenapa harus hachiko? yaah hachiko kelihatannya safe untuk di tonton bersama keluarga. soalnya tokoh utamanya kan anjing kecil imut tipe akita dari jepang ini nih.


Sebelum menonton pun gue udah tau kisah Hachiko ini kisah tragis yang penontonnya bakal mewek dan nangis bersimbah air mata. Tapi karena gue yakin dan pede dengan diri sendiri kalau gue nggak akan nangis, akhirnya gue menonton filmnya dengan riang gembira saat keluarga gue kemaren malam pergi buat belanja.


Singkat aja gue menceritakan film tragis ini. Pertama-tama nanti akan ada scene di mana Hachiko kecil masih di jepang. Kelihatannya si pemilik anjing akan pindah ke USA. Saat barang-barang si pemilik mau di bawa ke tempat pengumpulan barang oleh petugas kereta, kandang Hachiko jatuh. Saat itulah, Hachiko kecil bertemu dengan Richard Gere, seorang professor di sekolah seni. Awalnya, istri profesor melarangnya memelihara Hachiko dan menyuruhnya untuk mengembalikan kepada pemilik aslinya. Tetapi, pemilik Hachiko tidak muncul untuk mencari dan sang istri akhirnya mengalah dengan tingkah sang suami yang kelihatannya bahagia sekali bermain dengan Hachiko. Di cium, di peluk, bermain bola bersama.. semuanya membahagiakan deh. Di sini juga mengharukan kalau kalian udah tau akhir ceritanya. Gue nangis di sini. Setitik doang.


Beberapa tahun kemudian, seiring berjalannya waktu, Hachiko tumbuh besar menjadi anjing yang ganteng sekali. Sayangnya, kerjaannya hanya mengikuti dan bermain dengan profesor yang harus bekerja di universitas. Akhirnya, karena saking sayangnya dengan sang profesor, setiap pagi Hachiko selalu menemani sang profesor naik kereta dan kembali lagi ke depan stasiun tepat jam 5 sore untuk menjemput tuan kesayangannya. Setiap melihat tuannya jam 5 sore, Hachiko pasti lari ke sang profesor dan memeluk. Membuat seluruh penonton film ini merasa iri (mungkin). Setiap hari, dan setiap waktu selalu begitu, waktu hujan kek, badai kek, panas terik sampai topan pun, bila jam 5 tiba, Hachiko pasti sudah duduk dengan gagah di depan pintu stasiun. Hingga seluruh penumpang kereta yang turun pada jam 5 pasti mengenal Hachiko, sang anjing milik profesor. Tukang kopi, tukang daging, tukang jual hot dog sampai tukang stasiun selalu memperhatikan Hachiko yang setia.


Lalu, berlanjut saat kejadian yang menggembirakan. Hachiko yang dari bayi nggak bisa menangkap bola akhirnya mampu dan membuat sang profesor bangga banget. Hari itu dia menunjukkan ke semua orang kalau Hachiko bisa main tangkap-ambil bola untuk pertama kalinya, sayangnya respon semua orang biasa-biasa aja. Hari itu juga, Hachiko yang biasanya selalu mengantar majikannya untuk pergi ke stasiun, kali ini tiba-tiba bertingkah aneh seperti melarangnya untuk pergi bekerja. Tapi, profesor malah tetap pergi mengajar. Sehingga terjadilah kisah tragis yang membuat semua penonton film ini meringis kali ya.


Siang hari saat mengajar dengan gembira di ruangan bersama para mahasiswa, tiba-tiba sang profesor merasakan sesak nafas. Dengan wajah tersenyum di depan murid-muridnya, ia melanjutkan mengajar. Akan tetapi, tiba-tiba sang profesor ambruk dan tergeletak di depan seluruh murid-murid.
Ya, profesor yang di tunggu Hachiko untuk pulang dari stasiun jam 5 itu akhirnya tidak akan pulang selamanya. Sang profesor meninggal seketika karena serangan jantung.



Karena kesetiaannya kepada sang profesor, walaupun Hachiko sudah di bawa pulang oleh keluarga sang profesor, tapi tetap saja akhirnya Hachiko, setiap jam 5 sore sampai subuh meunggu pintu stasiun terbuka dan keluarnya profesor dari sana.
Selama sepuluh tahun, Hachiko berdiri dengan gagah menanti kepulangan majikannya yang tersayang. Di bawah hujan, salju, setiap musim sama sekali Hachiko nggak menyerah.
Sampai akhirnya Hachiko meninggal pada tahun ke-10 di bawah dinginnya salju.

Film ini bersumber dari kisah nyata seekor anjing jenis akita bernama Hachiko yang di pelihara oleh seorang profesor dari universitas tokyo. Profesor ini mengalami serangan stroke saat mengajar, sehingga meninggal di depan kelas. Walaupun keluarga profesor sudah berusaha melarang Hachiko menunggu berjam-jam di depan pintu stasiun, tetapi karena kesetiaannya kepada sang profesor, ia sampai menunggu selama 10 tahun, hingga akhirnya Hachiko meninggal.


Kisah Hachiko ini cukup fenomenal dulu di Jepang, sampai-sampai masyarakat yang melihat sendiri bagaimana kondisi dan penantian Hachiko pada jaman itu, merasa iba dan kagum atas kesetiaan dari seekor anjing tersebut. Seorang bernama Ando Takeshi pada tahun 1935 pun membuatkan patung anjing dari tembaga sebagai penghormatan kepada sikap kesetiaan sejati seekor Hachiko. Dan patung termahsyur itu masih berdiri di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya hingga kini.


Kalau buat gue pribadi, kisah Hachiko ini benar-benar harus di tonton selagi kalian ada waktu. Di jamin nggak menyesal dan banyak pelajaran di dalam filmnya, karena mengajarkan bagaimana sebuah kesetiaan dan kasih sayang sejati tidak hanya dimiliki manusia, bahkan seekor anjing pun nyatanya mampu memiliki dan merasakan hal itu lebih mendalam.


HIGHLY RECOMMENDED!

3 s'inscrire:

Anonymous said...

love this movie very much

Anonymous said...

lovable story :')

www.nontonfilmdvd.com said...
This comment has been removed by a blog administrator.