22.1.12

Ayo Indonesia!

Building of house of representatives Indonesia

Aku, warga negara Republik Indonesia. Tahun ini menginjak tahun ke-19 lamanya aku menjadi bagian Indonesia dalam keluargaku. Selama itu juga, aku belum pernah menginjakkan kaki ke tanah negeri orang lain. Melihat negara lain hanya bisa kulakukan melalui layar monitor komputerku, dengan bantuan kecepatan internetku. Suatu cita-cita bagi diriku agar bisa keluar dari negara ini, melihat keindahan negara lain dengan mata kepala sendiri. Iya, cita-cita sedari kecil. Oleh karena itu, begitu besarnya harapanku menjadi seorang Duta Besar, bisa berkeliling dunia mewakili negara Indonesia, negara yang kucintai.

Sejak aku masuk ke universitas, lambat laun hal didiriku berubah. Cara berpikirku tak sependek dahulu, kini aku penuh dengan pertimbangan dari berbagai sisi untuk mengambil suatu kesimpulan. Cara berpakaianku, dandananku kini juga sudah berbeda, tidak sepolos dahulu. Bersamaan dengan itu, ada banyak hal yang aku temui dan ketahui. Ketika diriku tahu bahwa tidak semudah itu 1+1=2, ketika diriku tahu bahwa senyuk seseorang menyimpan beribu makna, dan ketika kutahu betapa rusaknya negeriku, negeri yang kucintai ini. Dari berbagai hal yang terlihat dinegeriku, begitu banyak penderitaan dan kemiskinan. Di lain sisi, ada pihak lain yang begitu bahagia dan bergelimpangan harta, dengan tidak sewajarnya.

Aku masih dalam selimut kepolosan dan penuh pemikiran idealis. Yang aku mau adalah si miskin semakin sejahtera dan penjarakan yang melakukan hal licik untuk mendapatkan harta. Tapi praktisinya tidak semudah berbicara. Negeriku kini sudah amat kotor. Aku sendiri-- mungkin orang lain di luar sana yang membaca ini juga berpikiran harus bagaimanakah memperbaiki negeri ini, namun tidak menemukan suatu cara yang dapat benar-benar membetulkan yang terjadi pada negeri ini. Kebusukan telah berakar disetiap bagian negara ini. Hal sekecil apapun yang kulihat kini dapat terlihat sisi busuknya. Tidak ada lagi hal-hal lugu yang pernah kudapatkan saat dahulu kukecil.

Entah telah berpikir seberapa lama atau sepesimiskah diriku ini, aku berusaha belajar sekeras mungkin.. sekeras mungkin. Selagi aku berada di tempat terbaik dinegaraku, dimana pemikiran idealis bukanlah milikku saja, tapi milik kami semua di sini. Aku belajar dan bertukar pikiran. Yang ada dibenakku adalah aku ingin segera lulus dan mendapatkan pekerjaan, mengumpulan uang yang banyak.. yang banyak.. dan pergi dari negara ini, negara yang sebentar lagi akan hancur ini.

Kukira pemikiranku ini hanyalah diriku seorang. Namun, ternyata ada begitu banyak mahasiswa-mahasiswi ataupun orang-orang berpendidikan yang berpikiran serupa dan benar-benar persis dengan diriku. Saat itu juga aku berpikir "lalu siapa yang akan tinggal di negeri ini?"

tidak ada.

ya, mungkin yang tertinggal nanti benar-benar hanya orang-orang yang berniat mengeruk harta negeri demi kantongnya sendiri dan meninggalkan sampahnya pada rakyat yang kelaparan. mengindahkan kerusakan alam yang terjadi dan menikmati hasilnya di tanah negeri lain.

menyadari kenyataan itu, pantas negara ini tidak pernah maju. pantas begitu banyak yang pintar di negeri lain, ternyata pemikiranku yang diatas adalah pemikiran umum, begitu banyak fakta di luar sana. Jadi begini toh, Indonesia selalu di peringkat terbelakang. Indonesia menjadi peringkat atas suatu kehancuran. Ya karena apa? karena bibit-bibit yang seharusnya dapat menegakkan negara ini berpikiran pesimis dan bermental lembek. Hanya menyelamatkan diri sendiri dan melupakan negara tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, tempat ia mengeruk pendidikan. Ibu pertiwi yang terlupakan..

Andaikan anak Indonesia yang pintar merakit pesawat itu kembali tinggal di Indonesia dan tidak begitu saja menyetujui untuk selamanya memberikan kejeniusannya untuk negara itu, mungkin pesawat kita lebih maju. Andaikan ilmuwan asal Indonesia itu membantu para ilmuwan dinegaranya ketimbang negara itu, mungkin ia bisa membantu majunya teknologi dan penemuan yang ada di Indonesia.

Andaikan semua itu dapat terjadi, dan andaikan pemerintah Indonesia sendiri menghargai keinginan kami, memberikan fasilitas bagi kami untuk tetap tinggal di sini, menjadi bersama-sama memajukan negara.. bukan hanya memajukan perut kalian saja! Sungguh terlalu, apa sih yang salah di sini?

Pada akhirnya, yang patut disalahkan adalah keduanya. keinginan tidak mungkin dapat terkabul bila kondisi tidak mendukung. Kondisi itupun tidak mungkin dapat tercipta dengan sendirinya, diperlukan kesungguhan dari pemerintah agar keinginan bersama ini dapat tercipta.

Aku, kamu, kita, semuanya menginginkan Indonesia yang lebih baik bukan?
bapak/ibu pemerintah? Anda pasti juga kan?

Sincerely,

3 s'inscrire:

gheaaaa said...

masih ada yang optimis kooom.. gueee... mehehehe kemarin, guru les gue nanya, "What do you want to be after you graduate?"

akhirnya gue mantep dengan pilihan gue, "headmaster!" =)

kata pak dahlan, yang kotor banget paling cuma 10% kok, yang baik banget juga cuma 10%, sayangnya yang 10% kotor itu yang ada di atas, kalau yang 10% baik yang ada di atas, termasuk lo mungkin, pasti semuanya bisa berubah jadi optimis! =) ganbateee!!

Nadya Komanechi said...

geaaa :""") kudukung selalu cita-citamu. kita harus sukses meraih cita-cita dan mempertahankan idealis kita, terus jangan sampai lupa ke negara tercinta dan rakyatnya yang menderita. Iya! kita pasti bisa, hwaiting! anyway, yg 80%-nya apa dong ge?

gheaaaa said...

yang 80% itu pengikut, kalau 10% yang diatas udah baik, yang 80% nya jadi baik. contoh gampangnyaa... liat aja organisasi yang sukses di feui gimana. hihihi cemunguuudh =)