18.5.13

Konsep berbagi sebagai salah satu faktor untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia

Sudah sekian lama tinggal di Jakarta membuat gue kebal dengan pemandangan orang meminta-minta dijalan, kakek nenek yang terlantung-lantung di kereta atau anak kecil yang tidur di pinggiran jalan. Setiap kilometer berjalan bisa dipastikan kita bisa menemukan mereka di Jakarta. Tidak jauh dari mereka, bisa dilihat orang kaya dengan mobil mewah atau rumah super besar, anak kecil yang bermain gadget mahal, atau restoran yang menjual makanan mahal. Pemandangan itu merupakan tanda yang mudah kita kenali sebagai kesenjangan, dan di Jakarta pada tahun 2012 berdasarkan survey yang dialkukan BPS, tingkat kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin semakin lebar. Walaupun si Miskin mengalami peningkatan pendapatan, tapi peningkatan pendapatan si Kaya melebihi si Miskin hingga berkali-kali lipat.

Sebenarnya konsep pemerataan pendapatan sudah dilakukan oleh negara dengan banyak cara melalui konsep pajak dan adanya bantuan seperti subsidi dan program bantuan berupa beasiswa dan jaminan kesehatan, pendidikan, dan usaha. Tapi mengapa tingkat kemiskinan di Indonesia layaknya ilalang di halaman rumah, tebas sedikit tapi tumbuh seribu? Mengapa tingkat kemiskinan di negara kita walaupun mulai menurun namun rentan bila garis kemiskinan di geser sedikit ke kanan ($/PPP)?

Setelah mengikuti kelas Perekonomian Indonesia di semester ini, sebenarnya pemerintah sedang menjalani program untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Subsidi BBM misalnya, konsep dasarnya adalah untuk menurunkan jumlah si Miskin dengan tidak langsung berkontribusi menurunkan biaya transportasi dari bahan makanan sehingga harga makanan diharapkan juga ikut turun dan mudah dijangkau. Sayangnya, konsep dan model terkadang tidak semudah itu dijalankan si kenyataan. Terlalu banyak asumsi ceteris paribus yang digunakan sehingga pemberian subsidi BBM tidak layak lagi dilanjutkan. Mengapa gue berpikir demikian?

Dalam keranjang belanja konsumsi si Miskin yang digunakan sebagai dasar penetapan garis kemiskinan, ternyata biaya transportasi, seperti ongkos angkot atau BBM hanya sebesar 7% dan yang paling besar adalah beras dan bahan makanan pokok lain seperti cabai dan bawang berturut-turut sebesar 29% dan 28%. Bisa dilihat bahwa bagi si Miskin, mau BBM naik atau tidak, bukan menjadi perhatian dan pikiran. Yang penting 'saya bisa makan hari ini' lah yang menjadi concern mereka. Walaupun begitu, memang dalam kelompok rata-rata penduduk, proporsi transportasi dari pengeluaran masyarakat mencapai 19% sehingga kenaikan harga BBM akan lebih terasa efeknya.

Sebagai warga negara yang setiap hari dipaksa berpikir dan masih memiliki jiwa idealis, seenggaknya kita sebagai manusia bisa loh berpartisipasi dalam rangka membantu si Miskin agak tenang hidupnya. Well, beda dengan kita yang tiap hari stress memikirkan tugas dan nilai akhir, buat mereka urusan perut adalah problematika yang harus dihadapi sendirian. Menurut Suahasil Nazara dalam salah satu kuliahnya, ada tiga cara yang sering dilakukan si Miskin untuk bertahan hidup: 1) Berhutang, 2) Jual aset, dan 3) Menurunkan tingkat konsumsi alias nggak makan.

Apalah daya karena keterbatasan dana dan waktu, gue sebenarnya miris banget lihat anak-anak dan jompo mengemis di jalanan atau stasiun dan kereta ekonomi. Dengan konsep pemikiran serta kreativitas, sebenarnya kita bisa bantu mereka. Di sini gue pengen mengajak para generasi muda untuk menanamkan sikap berbagi dengan si Miskin untuk membantu mereka bertahan hidup. Berbagi bukan hanya dengan uang loh, tapi dengan makanan! Caranya mudah banget, kalau kalian lihat anak kecil atau jompo minta-minta, jangan berikan uang tapi berikanlah roti, susu, atau nasi bungkus. Hal ini bisa menghindari mereka untuk membeli rokok atau miras yang jauh dari maksud baik kita memberikan uang. Jadi dengan berkurangnya satu masalah, uang yang mereka punya bisa digunakan untuk hal lain seperti kesehatan atau pendidikan.

Memberikan makanan memang bukan solusi efektif untuk langsung menurunkan tingkat kemiskinan, menurut gue pendidikan memang hal yang utama agar dapat memutus lingkar setan tersebut. Dengan dua konsep ini, uang yang mereka miliki bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat dan tidak digunakan pada hal-hal yang tidak bermanfaat.

Selain bisa membantu mereka mengurangi permasalahan hidup, kita juga bisa meningkatkan kebahagiaan kita! Kok bisa? Iya, soalnya dengan melihat senyum atau mendengar kata terima kasih mereka, secara nggak sadar diri kita bereaksi dan terjadi reaksi kimia dalam diri, sehingga tingkat stress berkurang dan preventif penyakit berat seperti jantung. Hebat kan? Jauhnya, dan buat yang agamis, hal ini juga bisa bantu kita masuk surga secara bisa nabung pahala.

Dengan berbagi makanan yang kita punya kepada si Miskin, seenggaknya kita mahasiswa bisa turut andil dalam partisipasi perbaikan ekonomi negara. Yok dijadikan kebiasaan, lebihkan membeli makanan untuk diberi kepada sesama :)

0 s'inscrire: