25.9.11

Failed being a poetriest

Perjalanan menuju rumahku dari Depok berwujud banyak hal dari setiap langkah yang kulalui.

Nasihat dan doa mama sebelum aku melangkahkan kaki di hari pertama setiap minggu, kadang tidak aku sadari, menjadi penyemangat dan kekuatanku menghadapi kerasnya perjuangan batinku di sana.

Berusaha sekuat tenaga memutar roda nasib melalui buku-buku berbahasa asing, menahan rasa penyesalan setiap melihat kenyataan tentang kekalahan, letih akibat terkurasnya tenaga dan energi otak, waktu tidurmu yang terkorban demi masa depan, aku tumpuk di satu ruangan di sudut hati.

Hari ke enam menjelang tujuh, aku rela membelah lautan besi beroda empat dan dua menggunakan sisa tenagaku, mengambil kembali energi dari sumbernya; masakanmu, senyumanmu, nasihatmu, tawamu, adik-adikku, dan hadiah kecilmu.

Tapi kadang, kegetiran dan kepenatan dalam ruangan kecil di sudut hatiku memberontak keluar. Memuncratkan isi pahitnya didepanmu, didepan sumber-sumber energiku. Walaupun aku tahu itu salah, dan itu memang salah, hanya dirumahlah aku dapat sepenuhnya jujur. Walaupun bukan dalam cara yang benar, dan terlalu emosional, labil.

Tapi, kalian selalu tidak pernah bosan, tampaknya mengerti mengapa aku meledak. Walaupun lingkaran kesal-senang-kesal-senang diantara kita membuat muak, desiran dan arus cairan merah dalam diri aku, kamu, membuat aku tenang.

Aku. Enggak. Sendiri.

ada satu tiang yang bisa aku jadikan tumpuan diantara tiang kokoh yang ada di atas sana.
Ya siapa lagi kalau bukan kalian, keluargaku tercinta.

Maaf ya marah-marah terus kalau lagi stress.
Deeply inside me, I truly love you all. xoxo

0 s'inscrire: