1.2.12

Wah!

Dua puluh tahun hidup, lima tahun di antaranya selalu dalam status naksir, in-relationship, atau TTM dengan seseorang. Now I’m alone, I am loveless, and it’s kind of… weird.

Gue nggak tahu gimana dengan yang lain. Gue juga bukan begawan perkara beginian. Tapi itulah: lima tahun belakangan, gue selalu punya perasaan ‘cinta’ itu. Semacam posesifitas pengen memiliki, pengen disayang, pengen dikirimin gombalan, dan bahkan, jujur aja, lebih dari sekali gue pengen—er, sesuatu yang lebih dari ciuman. Dan perasaan itu terbukti kaya banget.

Mungkin karena gue terlibat jauh sama seni, gue jadi muse-biased. Perasaan hopelessdan tersiksa bikin gue jadi terpacu buat nulis, composing, atau ngelukis yang keren. Curhat, istilahnya. Perasaan disayang bikin gue pengen memonumenkan tiap kejadian sama si dia supaya suatu saat gue nggak lupa. Gue inget rasanya numb, nangis, jadi bego ngebanggain ke banyak orang, dan gue inget juga rasanya, jadi pandir, nggak peduli dikatain apapun sama sekitar yang penting gue sama dia.

But now? No. None. Gue nggak lagi cinta siapapun, nggak deket sama siapapun… all’s… normal. Mungkin karena gue capek dan memaksa diri bunuh rasa dulu. Sekarang gue mati, betulan ‘mati’, rasanya. Almost-almost plain. Mantan yang gue galau-in selama beberapa bulan udah ngomong lagi ama gue. Gue sayang dia lebih dari sayang gue ke beberapa orang, tapi bukan cinta lagi. Friendzone, indeed, tapi gue puas begini. Bulan ini gue udah nolak 3 orang (ga tahu juga kenapa gue laku, orang jelek gini), gue bilang gue gak minat pacaran. Beneran, enggak. Perasaan gue mampus atau gimana, andai gue juga tahu.

Gue hampa. Hidup rasanya buat kerja, belajar buat bakal kuliah, RP sesekali, nulis kalau mood. Gue mulai peduli sama rasa masakan dan berpikir buat nambah piaraan. Gue mulai peduli sama isu dunia dan gantiin nyokab pertemuan kampung pas beliau ga ada. Gue sayang semua orang; tiap gajian gue belikan adik gue mainan atau aksesoris kecil, beliin tart, gitu-gitu. Kalau ada temen butuh apa-apa gue bantu. Supirin lah. Garapin tugas lah. Temenin ngobrol lah. Tapi ketika semua jadi intens dan dia mulai nyoba ‘masuk’ ke zona gue, gue marah.

Gue makan dan hidup dari ucapan “Terima kasih.” Ucapan yang belakangan bikin gue squee-ing lebih daripada “I love you.” atau “Lo keren deh, dll.”

Tapi gue juga jadi lupa cara nulis bagus, bikin lagu, atau melukis.
Ha.
saya dapatkan dari seseorang di tumblr . Sejauh ini aku hanya menemukan kaum hawa yang berpikiran seperti ini, ternyata ada juga lelaki yang lelah dengan perasaan cinta.

Postingan aku yang terdahulu berjudul FREAK, sebenarnya sama persis dengan apa yang digambarkan oleh orang ini. Kecuali ada beberapa perbedaan sedikit dibagian pernah pacaran dan ingin lebih dari ciumannya ya haha. Well, dunia. Beneran semakin mau kiamat sepertinya.

0 s'inscrire: