4.7.14

Kamu

Selama ini tidak pernah ada kata 'kamu' dalam kamus hidupku. Setidaknya dulu pernah ada, dan kini 'ia' telah menghilang di telan kenyataan pahit bahwa ia memang berbeda dan perbedaannya mengharuskan ia cukup menjadi sebuah kenangan dalam hidupku. Ia yang dulu menjadi pedoman hidupku dan garis langkahku, menghipnotisku akan ketidaknyataannya, kini mengajarkanku arti kenyataan dan hidup yang sebenarnya. Bahwa hidupku adalah hidupku. Hidupnya adalah hidupnya. Garis takdir aku dan dia tidak akan pernah bertaut dan kami hanya akan saling berseberangan satu sama lain. Entah bagaimana aku merasa hari-hari yang kutakuti selama ini akan segera terjadi, melihat sikap dan kesenyapan dirinya, kini ia akan menjadi milik yang lain.

Namun aku belajar banyak selama ia meninggalkanku sendiri disini. Aku belajar untuk bangkit dan mandiri menjalani kerasnya hidup. Aku kini tahu bahwa aku bisa kuat dan tegar, tanpa ia disampingku dan menjadi panutanku. Kini aku belajar melihat masa depan tanpa harus memaksakan diri dan idealisme hidup yang tidak jelas akan kenyataannya. Walaupun aku masih ragu akan hal-hal tabu yang dulu aku pegang kuat-kuat sebagai prinsip hidup dan ketidaksamaan diri antara kami, tapi aku kini yakin, bahwa perubahan adalah langkah awal mencapai diri yang hakiki. Perubahan yang lebih baik akan membawaku mencapai 'kamu' yang baru dalam hidupku, dan mengenang 'ia' yang dulu selalu mengisi relung hatiku.

Sebentar lagi ia berulang tahun. Seperti biasa, aku hanya akan mengirimkan doa dari sudut ruangan ini, menengadahkan tangan dan berucap alunan doa, semoga ia yang baik hatinya, indah pekertinya, selalu senantiasa disisi Allah SWT.

Terima kasih.

0 s'inscrire: