28.7.12

-

Hari ini adalah hari yang panjang, setelah beberapa hari panjang yang berhasil aku lewati dengan lancar dalam bulan suci ramadhan ini.

Akhirnya, satu kegiatan baruku yaitu kerja part time menjadi surveyor berhasil dirampungkan sore ini. Dalam hati, bahagianya luar biasa. Kerja keras bertanya kepada banyak orang dalam seminggu full dalam berpuasa bukanlah hal yang sepele. Tentu saja aku boleh bahagia karena berhasil menyelesaikan target survey.

Selain bahagia, aku juga lelah. Karena sambil berpuasa aku berpanas-panasan bertanya kepada banyak orang di Jakarta. Loncat dari satu kereta ke kereta yang lain, tidak jarang ikut berhimpit-himpit ria dengan mereka.

Lalu malam ini, rasa bahagia bercampur lelah aku utarakan kepada Ibunda. Tapi ternyata hal ini malah membuat suatu permasalahan muncul. Kami bertengkar, aku yang dari dulu tidak pernah mau diam kalau dinasehati dan Ibunda yang selalu merasa benar-- tentu saja bukan teman adu mulut yang harmonis.

Berakhir dengan pukulan berentetan dibadan dan dimuka, aku sudah biasa. Tapi melihat Ibunda marah, menangis, dan berteriak... hatiku teriris sakit. Apa salah dan dosaku sampai membuat wanita yang melahirkanku begitu kesalnya pada diriku?

Hatiku sering sedih. Tidak bisa menangis, juga tidak bisa mengadu kepada siapa-siapa. Karena kalau bercerita, tentu aku harus membela ibuku dan aku haruslah salah dan patuh. Tapi, aku sebagai anak merasa punya hak untuk membela diri apabila diperlakukan dan dikatakan tidak benar. Namun ibu paling tidak suka bila aku melawan perkataannya. Biasanya, aku dipukul dan aku hanya diam. Tidak bisa apa-apa (tentu). Aku lari ke kamar, dan biasanya bercerita di blog/ pasang emote sedih di pm bbm. ha ha.

memang ceritanya agak personal, dan memang kalian semua pasti pernah melakukannya (apa saya saja??) tapi aku akhirnya selalu menyesal kalau menjawab perkataan ibu.

tapi apapun yang terjadi, dia tetaplah ibuku. apapun yang ibu katakan dari mulutnya, aku tetaplah anaknya. aku menangis karena melihat ibu berkata aku bukan anaknya. saat itu, rasanya aku ingin bunuh diri, merasa sudah tidak berguna di dunia dan akhirat.

tapi.. toh saya hanya menangis dan tidak berani bunuh diri juga. semoga esok hari ibu bisa memaafkan saya yang selalu menjawab perkataannya, dan besok-besok bisa diam seribu bahasa selalu.

1 s'inscrire:

ghea utari said...

semangat kom! apapun yg dibilang nyokaplu, nggak usah dimasukin hati. sama kayak dulu gue berantem sama ayah gue. bedanya,cuma selang 4 hari setelah berantem, ayah gue dipanggil, dan gue blm sempet minta maaf.. nyeseknya setiap hari :(