7.4.12

sahabat

Well. Everything has happened recently. Tadi malam berantem parah sama sahabat sendiri.
Dan menurut gue, ini lebih baik daripada dipendam dan hubungan pertemanan kita jadi nggak jelas, seperti yang pernah gue alamin dengan mantan sahabat gue dulu, yang kalau ketemu sekarang, kita berdua nggak pernah berani sapaan dan berani untuk memulai pembicaraan. Ya, hubungannya jadi parah.

Bagusnya, sahabatku yang satu ini berani mengungkapkan dimana dan apa yang buat dia kesal, berani ngasih tau kesalahan-kesalahan gue, dengan maksud biar kedepannya gue bisa memperbaiki diri lebih baik. Salahnya adalah, gue marah balik karena tahu hal yang buat dia marah ke gue adalah hal yang nggak penting sedunia, dan meluas ke sikap-sikap dasar gue, kayak keras kepala dan cuek. dan satu lagi yang buat gue kecewa sama sahabat gue ini, dia berani bohong.

Ya, tapi selama berantem dan adu mulut. Gue tau nggak ada manusia yang sempurna dan kita semua khilaf. toh kalau gue mau diem-dieman sama sahabat gue yang satu ini, terlalu banyak proyek bersama yang sedang dijalanin, terlalu banyak hal yang dia udah ajak gue bareng untuk ikut, dan lagi kamar kita bersebelahan dikosan. Itu pasti nggak enak banget kalau keadaannya perang dingin.

Dan ya, gue harus mulai memperbaiki sikap gue. Gue terlalu angkuh jadi orang. Terlalu memasang harga diri tinggi, terlalu cuek, terlalu sering berprasangka negatif, terlalu ambisius, terlalu banyak hal yang ingin dicapai, dan terlalu nggak peduli dengan keadaan sekitar.

Diri gue memang jauh dari sempurna, dan gue tahu kenapa satu per satu sahabat gue pergi ninggalin diri gue. Gue juga nggak mau memulai komunikasi untuk berbicara pribadi lagi sama mereka. Gue terlalu malas untuk mikirin suatu hal yang menurut gue itu nggak penting. Tapi, ternyata hal itu kini penting.

Andaikan melakukan perubahan itu semudah membalikkan telapak tangan. Ingin banget rasanya ngajak ngomong lagi teman-teman gue yang dahulu akrab sama gue. Nggak tahu kenapa satu per satu mereka pergi gitu aja, dan gue juga nggak memerdulikan kenapa mereka pergi. Cuma diam dan sedih sendiri. Terus, bangkit sendiri tanpa memerdulikan kenapa sebab mereka begitu.

Ya, harusnya nggak begitu.

Dan terima kasih buat sahabat gue yang satu ini. Thanks.
Besok kita rapat ya, haha

0 s'inscrire: