22.4.13

Genius

I'll make it in Indonesian, because so many tasks waiting to be finished in one night but can not resist desire to write what happened today. Sorry.

Senin adalah hari yang spesial di semester ke enam ini karena dua pelajaran di hari ini diajar oleh satu dosen yang sama. Beliau adalah dosen yang diantara seribu dosen di UI atau Jakarta bisa dikategorikan sebagai dosen yang kompeten, profesional, bagus, kreatif, berwawasan luas, dan bisa memberikan insight ke mahasiswanya. Seperti itu.

Jujur, gue menikmati banget setiap kelas yang dia sampaikan. Pemikirannya benar-benar bebas, luas, di luar batas pemikiran selama ini. Susah banget menebak apa dan bagaimana dia berpikir akan suatu konsep, apakah jawabannya sederhana ataukan rumit diluar pemikiran biasanya? Kadang gue harus berpikir lima-enam kali untuk melihat cara pandangnya. Serba salah, tapi kelas dia merupakan satu-satunya kelas yang memberikan cara ajar seperti ini dan gue menikmati ini.

Yah, walaupun setiap hal pasti ada bayarannya. Pemikirannya yang susah diiringi dengan ekspektasi pada mahasiswanya yang besar pula. Dia menjelaskan konsep tentang proses berpikir manusia, dimana ada tiga jenjang: mengumpulkan, memproses, dan mengaplikasikan. Dari ketiga proses ini dia bagi menjadi beberapa jenjang nilai: B, B+, A-, A. Menurut dia, nilai A hanya pantas bagi mahasiswa yang cara menjawabnya bisa membuktikan bahwa mahasiswa tersebut bisa sampai pada taraf berpikir pengaplikasian, semacam skripsi lah kalau dianalogikan. Tentu effort di tahap ke tiga ini perlu usaha yang keras nan gila. Apalagi akhir-akhir ini dia sering menyebut mahasiswa-mahasiswa kebanggaan yang beda dan bisa dia ingat sampai sekarang karena bisa dapat nilai A di kelas dia. Dia sebut mereka: Big 4.

Waduh, ciut banget tiap kali dengar dosen gue ini ngejelasin geng big 4. Rasanya usaha sekeras apapun nggak akan bisa memenuhi ekspektasi si bapak dosen. Nilai yang gue dapetin sekarang untuk UTS padahal udah dibarengin dengan usaha keras, walaupun nggak sampai titik darah penghabisan. Tapi tetep aja ngenes. Dan gue berpikir apakah harus seorang jenius, unik, dan stamina kuat nggak usah tidur biar bisa dapat nilai A? biar bisa dibilang jenius??

Walaupun terkendala nilai, gue terus semangat menunggu hari senin. Nggak sabar denger pemikiran bapaknya lagi, tentang berbagai macam hal dan pengaplikasiannya di komunikasi bisnis dan bisnis global.

ps: dua minggu ini di kelas belajar tentang sikap profesionalism: dilihat dari para penyanyi seperti Noah, Adele, Ari Lasso, Cold Play, Black Eyed Peas, dan Ratu Penyanyi Jazz yang dibandingkan dengan Penyanyi Dangdut. Terus juga tentang teknik membaca, melihat sudut pandang kita tentang kasus yang tejadi dibandingkan dengan perspektif Agama Islam. Wah seru :)

0 s'inscrire: