22.10.19

Sebentar lagi liburan!

Sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir, setiap akhir tahun aku pasti akan ke Bali untuk berlibur. Bilangnya ke Mama dan Papa sih untuk menjernihkan pikiran, karena aku lebih banyak pergi di Ubud ketimbang di Seetminyak atau Canggu. Selama aku di Bali, biasanya aktifitas yang aku lakukan kalau nggak ngopi, jalan-jalan santai, berenang, diving, atau yoga. Dan sudah dua kali berturut-turut juga aku selalu pergi dengan sahabatku yang ketemunya cuma setahun dua kali. Tahun pertama kita cuma berdua, tahun kedua kemarin dia turut serta bawa pacarnya, dan tahun ini kebetulan kita pergi dengan rombongan baru.

Tahun ini kita pergi berbarengan dengan Ubud Writer Festival, dilanjutkan dengan memesan meja di untuk makan malam mewah sambil menikmati wine nikmat dari Chef ternama. Terus rombongannya total jadi enam orang, makin lama jadi semakin ramai. Yang membuat aku semakin semangat, karena berbarengan dengan UWRF, aku jadi nggak sabar untuk belajar dan kenalan dengan orang baru-- sambil setelahnya istirahat dan menikmati tenangnya Ubud.

Walaupun setelah beberapa hari yang lalu aku baru saja tertimpa musibah-- nabrak mobil orang dan urusan asuransi yang belum kelar. Untunglah punya Mama yang pengertian, yang tetap ngizinin aku pergi terlepas dari biaya yang begitu banyak keluar di bulan ini. Liburan ini beneran aku tunggu-tunggu karena bulan Oktober di kantor itu berat dan stressful banget, jadinya ini epitome untuk kesehatan pikiranku.

Jadi, sampai bertemu minggu depan. Semoga ada cerita menarik yang bisa aku tulis disini.
Adios~

1.10.19

Meracau.

Oh begini ya rasanya mempunyai tanggung jawab dalam keterbatasan.

Ada perasaan yang setiap malam menghantuimu. Ada keinginan yang terkungkung. Seperti mengakui bahwa kini aku menyerah.

Aku bukan orang yang berlimpah harta, teman, dan waktu. Segalanya cukup, segalanya pas.
Namun akhir-akhir ini demi memuaskan seseorang, kupaksa keterbatasanku lebih dari biasanya. Demi kebahagiaannya, kukorbankan mimpi-mimpiku.

Yang aku tahu, saat itu tujuanku hanya untuk melihat senyum seseorang merekah. Mimpinya menjadi nyata. Karena aku yakin aku bisa lebih dari aku yang saat ini.

Tapi kadang rencana dan kenyataan berkata lain.

Lagi, aku terjebak dalam keputusan yang salah.

Sehingga kini aku harus menyerah. Harus rela dan berbohong menutupi keadaan.

Ingin rasanya aku menangis. Tapi kepada siapa? dan untuk apa?
Ingin rasanya aku pergi. Lelah itu sudah sampai ke kerongkongan.