28.4.12

Depresi

Pagi hari, semuanya terlihat baik-baik saja.

Seperti biasa, di malam hari Kamis, saya ketiduran dan meninggalkan kewajiban untuk belajar kuis AK2 yang akan saya hadapi di pagi hari Jumat. Bangun dengan santai, belajar dua jam untuk mempersiapkan diri dari kuis. Maklum, nilai UTS ternyata jelek semua, saya mau-tidak mau harus super ambi menjelang UAS ini.

Setelah AK2, semuanya juga masih baik-baik saja. Saya melanjutkan rutinitas untuk berlatih menari dengan SGB tersayang. Hari ini belajar tari piring dan secara keseluruhan, saya bisa menguasai dengan lancar. Bahkan SGB mendapat kabar baik, bahwa kami akan mendapatkan kesempatan untuk mempertunjukkan budaya Indonesia ke festival di Kepulauan Karibia, Amerika Serikat untuk Oktober nanti. How proud of I am :')

Setelah ber-SGB ria, kemudian lanjut mampir sebentar ke BOE. Semuanya sibuk seperti biasa, dan saya gabut seperti biasanyaaa, lalu saya memutuskan untuk pulang. Namun, takdir berkata lain. kesempatan menggiurkan muncul tiba-tiba: another chances to go overseas. 

Saya langsung di minta meeting di perpus pusat, and another unexpected things happened: ada pak Faisal Basri beserta Jokowi, juga cagub dan cawagub DKI Jakarta di situ. Bukan hal penting, tapi itu momen bersejarah buat saya, khususnya. Setelah meeting yang benar-benar membuat saya gembira, saya bertemu dengan para peneliti asal Belanda yang akan saya temani dalam melakukan penelitiannya sebulan kedepan. Kami berjalan-jalan di sekitar perpus pusat dan makan di restoran korea. Talk much things between our country.

dan John oppa juga mengabari saya kalau dia ada di Singapur dan akan kembali hari Minggu, lengkap dengan oleh-oleh yang dia janjikan dibeli untuk saya. Nice.

Hanya saja setelah ini, semua hal berjalan di luar harapan saya....

Tiba-tiba teman salah satu organisasi saya lewat, bak angin. Dan entah bagaimana saya melihat dia dan menyapanya, lalu langsung bertanya masalah tugas dia. I don't know what was I did there tapi dia meledak dan marah-marah di sana. Suprisingly, saya tidak kaget dan menanggapinya hanya dengan tersenyum. Mungkin akumulasi kesenangan dari pagi.

Tapi, buruknya saya.. ketika saya mendapatkan waktu tenang sedikit saja, contohya: saat-saat menunggu bikun. Saya jadi kepikiran atas apa yang terjadi, dan runtutan bbm yang menyakiti hati saya. Saya berlaku profesional dan berusaha meminta maaf, menyesuaikan diri dengan pola kerjanya.

kita baikan, pikiran saya sudah kembali tenang. semua akhirnya harusnya baik-baik saja.

Namun, beberapa jam kemudian
masuklah bbm lainnya yang mencaci saya, memarahi saya. akumulasi kecapean hari ini serta menumpuknya masalah yang dipendam di batin, akhirnya saya pecah.

saya menangis.

menangis.

menangis.

hidup menjadi seseorang yang saya inginkan kenapa begitu amatlah sulit. kenapa diri saya begitu sulit membuat orang mengerti dan memahami diri saya.

bahkan diri saya sendiri tidak mengerti dengan dirinya.

terlebih lagi, setelah itu saya mendapat laporan bahwa tim saya yang harusnya mengikuti lomba internasional, memutuskan untuk mundur. dan rencana saya yang harusnya berangkat untuk pertukaran pelajar juga ternyata batal.....

semuanya terjadi satu waktu.
di hari ini, hari jumat kelabu ini.


namun, yang saya petik juga begitu banyak hal.
bahwa Allah masih sayang dengan saya, begitu baiknya dia sampai secara langsung membuat keputusan demi saya, agar saya bisa dengan ridho merelakan segala aktivitas saya berkurang.. agar saya sayang dengan diri saya. Agar saya tidak lagi begadang, tidak lagi begitu banyak berpikir hingga lupa makan. Tidak lagi terlalu banyak diam bersendiri, harusnya berbagi pikiran seperti dulu kala.

Nadya yang ceria. yang tidak menanggung beban seorang diri.

....

saya masih menangis.
tapi walaupun sudah diangkat beban sedikit oleh-Nya
saya masih banyak hal yang harus dilakukan untuk diselesaikan.

ah, dan asam lambung saya hari ini naik, karena baru saja saya ingat untuk makan.
dari tadi bersin-bersin dan takutnya ulu hati saya radang lagi. habisnya batuknya sakit sampai ke dada.

oh iya. Super Junior konser di Indonesia hari pertama.. tapi saya malah mengalami nasib buruk di sini.
Anyeong, Oppadeul. Selamat menikmati fansmu di Indonesia.

Salam sayang dari seseorang yang bodoh di sini.

21.4.12

HANCUR COY

Hancur.

Ketika lo nggak memiliki skala prioritas dari segala hal yang lo lakukan, ketika lo mengambil semua yang ada di depan lo tanpa tahu kapabilitas diri lo yang sesungguhnya, dipastikan semuanya hancur.

Gue ngalamin itu semua.

Mau teriak. Betapa tamaknya diri gue, sampai-sampai gue nggak mau melewatkan semuanya. Semuanya gue raih, tapi nggak ada satupun dari semuanya mendapatkan 'gue' yang seutuhnya, yang mengeluarkan kemampuan maksimalnya.

Yang ada, gue hanya bisa membuat orang-orang kecewa... semuanya kecewa dengan gue.

Lagi-lagi gue dihadapi dengan pilihan yang sulit. melepaskan itu semua.. dan memulai kembali yang baru dimana dapat diberikan prioritas dan benar-benar sesuai kapabilitas.

dan gue akhirnya bisa tidur pulas....

hah.

7.4.12

sahabat

Well. Everything has happened recently. Tadi malam berantem parah sama sahabat sendiri.
Dan menurut gue, ini lebih baik daripada dipendam dan hubungan pertemanan kita jadi nggak jelas, seperti yang pernah gue alamin dengan mantan sahabat gue dulu, yang kalau ketemu sekarang, kita berdua nggak pernah berani sapaan dan berani untuk memulai pembicaraan. Ya, hubungannya jadi parah.

Bagusnya, sahabatku yang satu ini berani mengungkapkan dimana dan apa yang buat dia kesal, berani ngasih tau kesalahan-kesalahan gue, dengan maksud biar kedepannya gue bisa memperbaiki diri lebih baik. Salahnya adalah, gue marah balik karena tahu hal yang buat dia marah ke gue adalah hal yang nggak penting sedunia, dan meluas ke sikap-sikap dasar gue, kayak keras kepala dan cuek. dan satu lagi yang buat gue kecewa sama sahabat gue ini, dia berani bohong.

Ya, tapi selama berantem dan adu mulut. Gue tau nggak ada manusia yang sempurna dan kita semua khilaf. toh kalau gue mau diem-dieman sama sahabat gue yang satu ini, terlalu banyak proyek bersama yang sedang dijalanin, terlalu banyak hal yang dia udah ajak gue bareng untuk ikut, dan lagi kamar kita bersebelahan dikosan. Itu pasti nggak enak banget kalau keadaannya perang dingin.

Dan ya, gue harus mulai memperbaiki sikap gue. Gue terlalu angkuh jadi orang. Terlalu memasang harga diri tinggi, terlalu cuek, terlalu sering berprasangka negatif, terlalu ambisius, terlalu banyak hal yang ingin dicapai, dan terlalu nggak peduli dengan keadaan sekitar.

Diri gue memang jauh dari sempurna, dan gue tahu kenapa satu per satu sahabat gue pergi ninggalin diri gue. Gue juga nggak mau memulai komunikasi untuk berbicara pribadi lagi sama mereka. Gue terlalu malas untuk mikirin suatu hal yang menurut gue itu nggak penting. Tapi, ternyata hal itu kini penting.

Andaikan melakukan perubahan itu semudah membalikkan telapak tangan. Ingin banget rasanya ngajak ngomong lagi teman-teman gue yang dahulu akrab sama gue. Nggak tahu kenapa satu per satu mereka pergi gitu aja, dan gue juga nggak memerdulikan kenapa mereka pergi. Cuma diam dan sedih sendiri. Terus, bangkit sendiri tanpa memerdulikan kenapa sebab mereka begitu.

Ya, harusnya nggak begitu.

Dan terima kasih buat sahabat gue yang satu ini. Thanks.
Besok kita rapat ya, haha

1.4.12

New Friends

Jason Oppa, Hilda, me, (above) Hyeok Oppa

Bonsoir, alle!

Akhir-akhir ini saya sering berinteraksi dengan beberapa teman baru dari negara lain yang sedang menetap sementara di Indonesia. Ada Jason (bukan nama asli) dari Seoul, seorang business man yang sekarang sedang mengerjakan beberapa proyek bisnis di Indonesia, dan Hyeok-sshi yang sedang 'kabur' setelah tugas militernya rampung karena ingin rehat sebentar dari kesibukan kuliahnya. Aku dan Hilda menjadi teman akrab dalam satu bulan ini. Sering makan malam bareng, belanja bareng, di traktir di restoran korea Perpustakaan Pusat oleh om-om yang baik hati ini. They said, pay for someone food are they way to interact with their guest. Jadilah kita sering banget ngajak mereka makan bareng. Dibayarin gitu loh :p

Selain dua orang di atas, ada satu bapak-bapak yang bernama John. Berasal dari Korea Utara tapi sekarang berdomilisi di Seoul dan sukses menjadi Top Manager di SK Company, second biggest company listed in South Korea. Kebetulan kami mengenal dengan dia, dia juga memberikan begitu banyak pengalaman dan informasi mengenai korea selatan dan dunia kerja di sana serta multinational company. We get along together, talk much things and exchange our culture, despite our big gap of different old.

Lalu, kebetulan beberapa minggu yang lalu, saat aku ingin menemui Jason dan menunggu dia keluar dari kelasnya, aku bertemu dengan satu orang cowok jepang super cute [mukanya persis kayak malaikat turun ke bumi, mulus]. Usut punya usut, namanya adalah Ryunosuke yang juga belajar di UI umurnya 19 tahun. Wah, karena aku freak Japan dan orang jepang yang ganteng sangatlah jarang, akhirnya dengan bantuan para oppa-oppaku yang ganteng dan baik hati, satu minggu yang lalu saya dipertemukan dengan Ryu-kun.

boleh teriak nggak? kalau boleh sih saya teriak disini. Suaranya seperti yang dibayangkan, mukanya tetap semulus yang pertama kali dilihat, dan dia ternyata akan melanjutkan studi di UI. Orangnya pendiam dan super pemalu, lucunya lagi dia campuran Indonesia-Jepang. Sama kayak aku (cuma bedanya dia masih direct, aku dapet ampas dari nenek)

Minggu depan setelah UTS, rencananya aku dan Jason akan pergi bersama ke suatu tempat untuk dikenalkan dengan seseorang. Beberapa minggu setelahnya aku, Hilda, dan satu orang teman kami diajak Hyeok Oppa untuk naik gunung. Kata dia sih mau lepas stress.

Can't wait to play around with them again...

31.3.12

Hari ini habis debat sama T.

Jadi orang terlalu baik, sampai-sampai mempermasalahkan rencana hidup gue yang kedepannya mau nggak nikah. Yang gue tangkep, dia ngelihat pandangan gue salah menurut agama dan nggak boleh terjadi. Ya, gue tahu itu ngelanggar agama, tapi somehow gue memikirkan cara bagaimana rencana gue ini bisa nggak ngelanggar agama.... tapi nggak tahu deh.

Melihat begitu seriusnya temen satu ini mikirin nasib gue kedepannya, dan baru sekali ini gue nemuin orang yang bener-bener nganggep rencana hidup gue yang satu ini serius adalah unik! Biasanya orang-orang yang gue kasih tau mengenai rencana gue, pasti dianggap angin lalu dan tidak digubris. Cuma ini satu orang nih.

Saking ditentangnya..... gue jadi mikir ulang mau nikah apa enggak.

Ya, liat nanti kedepan deh

18.3.12

Alhamdulillah

Tuhan begitu sayang dengan saya. Entah apa yang Ia lihat dari diriku yang begitu hina, yang begitu sering melupakan kebaikan-Nya.

Begitu banyak malaikat yang Ia turunkan untuk membantu saya mencapai berbagai macam keinginan hidup saya, membantu saya memenuhi ambisi yang tak kunjung habis oleh waktu.

Seperti beberapa hari yang lalu, lagi-lagi saya diberikan kejutan atas bantuan Allah dengan wujud teman lama saya, yang tiba-tiba begitu inginnya bertemu dengan saya. Siapa yang menyangka, ia hadir dan malah memberikan begitu banyak bantuan dan secercah harapan bagi saya yang sedang mengejar satu impian besar dalam waktu ini.

Beberapa hari setelah keajaiban itu, datang lagi kesempatan emas bagi saya untuk menggenapi keinginan saya yang begitu besar dan ambisius.

Seberapa baiknya kah, Allah kepada saya? Rasa-rasanya pelukan ribuan dan senyuman haru jutaan manusia tidak akan bisa menggambarkan betapa baik dan pemaafnya Tuhanku.

Harus lebih sering-sering bersyukur kepada-Nya dan bersedekah kepada sesama, keajaiban ini terlalu indah apabila hanya dipeluk sendiri.

Alhamdulillah ya Allah :")

:)

Ketika seseorang memiliki suatu titik balik dalam hidupnya, seperti Einstein yang berhasil merumuskan keajaiban dunia dalam kalimat numerik setelah bereksperimen ratusan kali yang berujung kegagalan, juga seperti Beethoven yang tidak menyangka dapat menciptakan rumusan alunan irama yang sampai sekarang tergaung dimana-mana, saya-- mungkin, sedang berada dalam titik balik tersebut.

Tidak seekstrim Einstein dan Beethoven, juga sedramatis mimpi Obama dan Adele.

Hidup saya akhir-akhir ini berubah, tidak selurus dahulu kala. Saya masih bangun dipukul yang sama, melakukan aktivitas pagi yang sama, tetap tidur dan pulang ke rumah yang sama. Yang membedakan hanyalah, satu mimpi yang dahulu kala mustahil dapat terjadi, kini terjadi.

Saya berteman dengan-- kurang lebih lima orang warga korea dan cukup berinteraksi dengan mereka. Kelima-limanya lebih tua, dan semuanya baik hati. mereka berbagi banyak kisah dan pengalaman, bertukar budaya dengan saya. Berinteraksi dengan mereka rasanya bagaikan mimpi di siang bolong untuk saya yang penggemar drama korea.

Kejadian kemarin sore, saya tertarik dengan teman salah satu teman korea saya, yang berasal dari Jepang. Entah kenapa, dia menarik perhatian saya. Gaya berpakaiannya yang sleboran dan kulitnya yang halus seperti sutra, membuat dia kontras dengan ketiga teman korea saya, yang waktu itu ada di samping saya.

Namanya Ryunosuke, pria pemalu dari Jepang yang akan berkuliah di Indonesia dalam waktu dekat. Kami belum berbincang banyak, cuma saya tertarik dengan begitu banyak hal unik dari Ryu-kun. Rencananya minggu depan, saya akan mengunjunginya lagi dan mengajak dia menemani Hyeok-oppa dan sahabat saya jalan-jalan di traditional market sekitar daerah Depok. Berdoa semoga minggu depan jadi dan sukses akrab dengan Ryu-kun.

Hidup saya pindah ke satu fase berbeda. Penuh dengan andaian.

*minggu depan saya akan menghadapi ujian tengah semester. doakan saya agar sukses menghadapi ini semua! Oh no!

9.3.12

bebaskan aku

siapa? siapa yang mengurungmu?
apa? apa yang mengekangmu?
bukankah kau menikmati setiap detik tersiksa olehnya?
bukankah karena itu kau menyebut dirimu masochist?


siapa? siapakah yang sepatutnya berdosa?
apakah dia? dia yang begitu indah dan baik budi pekertinya?
saya rasa kamulah yang seharusnya pantas untuk dihukum
dia dan kamu memang harus terpisah
dia dan kamu bagaikan putih dan hitam
surga dan neraka, langit dan bumi

kalau begitu, siapa yang bisa membebaskanmu?
apakah dia atau kamu?

saya rasa kamu tahu jawaban yang sesunggguhnya.
hanya saja masalahnya hanya satu: dia

3.3.12

Waktunya ya.

Tadi saya menangis, sebelum angka kembar nol muncul di jam dindingku, saya menangis.
Meratapi kesedihan yang melenggu di dada, karena kebebasan dan keceriaanku terbatasi oleh suatu hal.
Harusnya tidak sampai mengeluarkan air mata, tapi entah kenapa rasanya sesak. Jadinya, tadi meledak.

Saya malas bercerita detil kepada siapapun kenapa-apa yang menyebabkannya. Sudah sifat dari kecil. Stubborn and independent. Menangis yang satu ini juga meledak mungkin karena semua rasa sakit, sedih, kesal, benci, mengumpul menjadi satu, campur aduk, dan tampaknya tidak bisa ditampung lagi.

Tapi jadi lega. Mari tersenyum dan bergembira lagi menghadapi esok hari :)

Me is The Analytical Thinker

It says..

Analytical Thinkers like you are reserved, quiet persons. You like to get to the bottom of things - curiosity is one of your strongest motives. You want to know what holds the world together deep down inside. You do not really need much more to be happy because you are a modest person. Many mathematicians, philosophers and scientists belong to your type. Analytical Thinkers loathe contradictions and illogicalness; with your sharp intellect, you quickly and comprehensively grasp patterns, principles and structures. You are particularly interested in the fundamental nature of things and theoretical findings; for you, it is not necessarily a question of translating these into practical acts or in sharing your considerations with others. Analytical Thinkers like to work alone; your ability to concentrate is more marked than that of all other personality types. You are open for and interested in new information.

Analytical Thinkers have little interest in everyday concerns - you are always a little like an “absent-minded professor” whose home and workplace are chaotic and who only concerns himself with banalities such as bodily needs when it becomes absolutely unavoidable. The acknowledgement of your work by others does not play a great role for you; in general, you are quite independent of social relationships and very self-reliant. You therefore often give others the impression that you are arrogant or snobby - especially because you do not hesitate to speak your mind with your often harsh (even if justified) criticism and your imperturbable self-confidence. Incompetent contemporaries do not have it easy with you. But whoever succeeds in winning your respect and interest has a witty and very intelligent person to talk to. A partner who amazes one with his excellent powers of observation and his very dry humour.

As an Analytical Thinker you are one of the introverted personality types. You are not particularly suited for dealing with others, working as a part of a team and be in the position of “continuous exchange“, you would much rather work alone, and dwell on your thoughts undisturbed. You usually put a critical distance between yourself and others that enables you to be the keen and incorrupt observer of life. This distance can be truly bridged by only very few other people. That is probably caused by the fact that you are not all that interested to share your thoughts with others. Generally it is sufficient for you to have clarified a matter for yourself or that you have understood something; the continuous in your eyes mostly superficial chatter of the people around you becomes rather annoying.

You prefer to work independently and appreciate having a lot of time and quiet in order to concentrate on the really important things: Structuring ideas, comprehending complex causalities, understanding of the universe, its rules and the logical analysis of systems. You absorb new information like a sponge and your memory is legendary. Once you have learned something, you’ll never forget it - unless you consider it to be irrelevant for some reason and decide that it seems to be better purging it from your data storage.

Creative problem solving and jumping out of your paradigm to development daring future visions are a part of your greatest strength. At the same time you are the most acute and rational critic of your own ideas, each one of them will be rigorously examined and discarded at the smallest indication of contradictions or lack of logic. You usually leave the implementation to others and prefer to turn to new theoretical reflections. Especially in case of self employment (in your case a real possibility) it is important to surround yourself with hands-on oriented and dependable employees who make sure that your incredible suggestions for solutions become reality while you return to immersing yourself in your intellectual world. 


***

I got this from  Ipersonic. Just found out what type you are from there. Cherios!

12.2.12

Sekolah 5 senti


Oleh: Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia
Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaian ala Mao. Di China, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak celahnya dan diisi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa.
Perhatian saya tertuju pada jas hitam, baju putih, janggut panjang dan topi kulit berwarna hitam yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Menurut Dr. Stephen Carr Leon yang pernah tinggal di Yerusalem, saat istri mereka mengandung, para suami akan lebih sering berada di rumah mengajari istri rumus-rumus matematika atau bermain musik. Mereka ingin anak-anak mereka secerdas Albert Einstein, atau sehebat Violis terkenal Itzhak Perlman.   
Saya kira bukan hanya orang Yahudi yang ingin anak-anaknya menjadi orang pintar. Di Amerika Serikat, saya juga melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar bisa menyekolahkan anaknya. Di Bekasi, saya pernah bertemu dengan orang Batak yang membuka usaha tambal ban di pinggir jalan. Dan begitu saya intip rumahnya, di dalam biliknya yang terbuat dari bambu dan gedek saya melihat seorang anak usia SD sedang belajar sambil minum susu di depan lampu templok yang terterpa angin.Tapi tahukah anda, orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti? 
Sekolah 5 senti dimulai dari kepala di bagian atas. Supaya fokus, maka saat bersekolah, tangan harus dilipat, duduk tenang dan mendengarkan. Setelah itu, apa yang dipelajari di bangku sekolah diulang di rumah, ditata satu persatu seperti melakukan filing, supaya tersimpan teratur di otak. Orang-orang yang sekolahnya 5 senti mengutamakan raport dan transkrip nilai. Itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya. Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5 sentimeter ke bawah.
Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti, hingga ke lutut. Kata Bob Sadino, ini cara goblok. Enggak usah mikir, jalan aja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas. Cuma, mulai dari atas atau dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal. Tergantung berhentinya sampai di mana.
Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bisa ngomong, menulis, apalagi memberi contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai dengkul saja, seperti menjadi pengayuh becak. Keduanya sama-sama berat menjalani hidup, kendati yang pertama dulu bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4.0. Supaya bisa menjadi manusia unggul, para imigran Arab, Yahudi, China, dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka tidak sekolah hanya 5 senti, tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. Pintar itu bukan hanya untuk berpikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki, dan mulut sama-sama disekolahkan dan sama-sama harus bekerja. Sekarang saya jadi mengerti mengapa orang-orang Yahudi mengirim anak-anaknya ke sekolah musik atau mengapa anak-anak orang Tionghoa ditugaskan menjaga toko, melayani pembeli selepas sekolah.
Sekarang ini Indonesia sedang banyak masalah karena guru-guru dan dosen-dosen nya –maaf- sebagian besar hanya pintar 5 senti dan mereka mau murid-muridnya sama seperti mereka. Guru Besar Ilmu Teknik (Sipil) yang pintarnya hanya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di Padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan. Yang sekolahnya 5 senti hanya bisa berkomentar atas komentar-komentar orang lain. Sedangkan yang pandainya 2 meter cepat kaki dan ringan tangan. Sebaliknya yang pandainya dari bawah dan berhenti sampai di dengkul hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohi orang-orang pintar, padahal usahanya banyak masalah.
Saya pernah bertemu dengan orang yang memulainya dari bawah, dari dengkulnya, lalu bekerja di perusahaan tambang sebagai tenaga fisik lepas pantai. Walau sekolahnya susah, ia terus menabung sampai akhirnya tiba di Amerika Serikat. Di sana ia hanya tahu Berkeley University dari koran yang menyebut asal sekolah para ekonom terkenal. Tetapi karena bahasa inggrisnya buruk dan pengetahuannya kurang, ia beberapa kali tertipu dan masuk di kampus Berkeley yang sekolahnya abal-abal. Bukan Berkeley yang menjadi sekolah para ekonom terkenal. Itupun baru setahun kemudian ia sadari, yaitu saat duitnya habis. Sekolah tidak jelas, uang pun tak ada, ia harus kembali ke Jakarta dan bekerja lagi di ring lepas pantai.
Dua tahun kemudian orang ini kembali ke Berkeley dan semua orang terkejut kini ia bersekolah di Business School yang paling bergengsi di Berkeley. Apa kiatnya? “Saya datangi dekannya dan saya minta diberi kesempatan. Saya katakan, saya akan buktikan saya bisa menyelesaikannya. Tetapi kalau tidak diberi kesempatan bagaimana saya membuktikannya?” Teman-temannya bercerita, sewaktu ia kembali ke Berkeley, semua orang Indonesia bertepuk tangan karena terharu. Anda mau tahu di mana ia berada sekarang? Setelah meraih gelar MBA dari Berkeley dan meniti karirnya sebagai eksekutif, kini orang hebat ini menjadi pengusaha dalam bidang energi yang ramah lingkungan, besar, dan inovatif. Saya juga bisa bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama seperti Anda, tetapi mereka tidak hanya pintar bicara melainkan juga berbuat, menjalankan apa yang dipikirkan dan sebaliknya.
Maka jangan percaya kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya. Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga tidak masalah. Yang penting jangan berhenti hanya 5 senti atau 50 senti. Seperti otak orang tua yang harus dilatih, fisik anak-anak muda juga harus disekolahkan. Dan sekolahnya bukan di atas bangku, tetapi ada di alam semesta, berteman debu dan lumpur, berhujan dan berpanas-panas, jatuh dan bangun.
source: Kuntawiaji

Kalau seperti ini saya mau..

click to enlarge