17.1.17

Bahagia

Kamu tahu tidak apa artinya bahagia?

Jawaban setiap orang pasti berbeda-beda; ada yang jawab kekayaan, kesehatan, kemakmuran, cinta, keliling dunia, jadi istri raja...

Tapi tahu tidak? semua yang disebutkan diatas, bukannya malah membuat kita bahagia, akhirnya malah membuat kita (manusia) ingin lebih, lebih, dan akhirnya kembali jadi tidak bahagia.

Jadi kalian mengerti, tidak? Bahagia itu sederhana. Hanya dengan merasa cukup dengan yang kalian miliki, tidak pusing memikirkan dan membandingkan diri kita dengan orang lain, hal itu yang membuat kita bahagia.

Dan saya, berusaha untuk bahagia. Bahagia dan bersyukur dengan kondisi saya sekarang.

Tapi bukan berarti bahagia itu berhenti berusaha. Bahagia malah akan membuat kita semakin terpacu meraih mimpi. Karena bahagia membuat kita lebih hidup, dan setiap mahkluk hidup pasti punya hal yang ingin di raih.

Memang menjadi orang yang bahagia tidaklah mudah. Rumusnya susah dan prakteknya banyak godaan.

Semoga kebahagiaan yang saya punya sekarang terus ada. :)

8.1.17

Tawa, tangis, duka, lirih, dan berusaha (repeat) : sukses (?)

Ketika manusia bisa berharap dan berusaha mengejar mimpi, merangkai strategi dan formula, mengasah intuisi dan segalanya, hingga akhirnya semua tergantung oleh takdir dan apa kata "Tuhan".

Sejujurnya, saya merasa letih. Menghadapi realita dan goresan tangan bahwasanya saya adalah manusia dengan kasta biasa-biasa saja, haruslah berusaha hingga darah penghabisan untuk mendapatkan segala sesuatu, itupun belum tentu akhirnya mendapatkan yang diinginkan.

Saya berusaha mangkir. saya berusaha 'lupa'. Jauh saya pergi dan lama, lupakan kenyataan dan berandai-andai di dunia masa kecil. Ya, saya baru saja kembali dari liburan (yang seharusnya sih tidak saya ambil), dari Jepang. Jepang adalah salah satu negara yang saya impi-impikan untuk dikunjungi sedari kecil. Sayangnya, segala keputusan terkait liburan ini saya rencanakan dengan gegabah. Hingga akhir detik menginjakkan kaki di sana, masih banyak hal yang ingin saya lakukan dan belum terpenuhi.

Minggu ke dua saya di Jepang, saya dihempaskan kembali kenyataan, bahwa mimpi masih jauh dari realita. Bahwa usaha saya selama ini sia-sia. Rasanya sakit, sekali. Hari itu saya menangis sekuat hati, mengeluarkan rasa sesak di dada, juga sakitnya jatuh dari awang-awang mimpi.

Tapi apa daya, saya tidak bisa menangis terus menerus. Masih banyak orang di luar sana yang nasibnya lebih malang ketimbang saya namun masih mampu berdiri kuat menghadapi hari esok. Sedangkan saya, dengan keadaan yang masih bisa dibilang beruntung, menangisi hal yang mungkin memang bukan takdir saya, bukan rezeki saya.

Yang saya tahu, saya tidak boleh menyerah. Saya boleh menangis (sekali-sekali) tapi tidak boleh menyerah mencari jalan meraih mimpi dan menjadikannya kenyataan.

Yang saya tahu, hidup saya memang tidaklah mudah seperti orang-orang yang sudah terlahir kaya dari awal. Saya memang diharuskan berusaha lebih.

Berusaha dan pantang menyerah, sampai 'Tuhan' mengakuinya.

Alhamdulillah.