28.7.16

Akhirnya saya sadar.

Anda tahu, saya tidak pernah bisa benar-benar lepas bercerita kepada seseorang. Katakanlah, saya terlalu berhati-hati dalam bersikap atau terlalu negatif berspekulasi bahwa tidak orang yang benar-benar bisa saya percayai. Bahkan hal ini berlaku kepada orang terdekat sekalipun. Terkadang, yang saya butuhkan bila saya, akhirnya, dapat bercerita adalah dukungan moral. Bukan tawa palsu atau kritik.

Sudah lama tidak menulis sesuatu di blog ini. Semua hal berjalan dengan baik, pekerjaan dan hubungan sosial saya. Hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Ada perasaan tidak nyaman yang saya bahkan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.

Hari ini saya pergi bekerja seperti biasa. Berangkat dengan commuter line setengah jam setelah berjalan kaki lima menit dari rumah, berdesak-desakan selama setengah jam dengan ribuan commuter dari Bekasi. Melintasi stasiun Manggarai yang berantakan, dan lagi berebutan dengan ratusan commuter yang mengejar kereta di rel seberang peron. Kacau. Tapi apa daya, yang saya bisa lakukan hanya menghirup udara lebih banyak dan menghembuskannya, mencari sedikit tambahan energi. Ini Jakarta, ucap saya di hati.

Setelah menunggu lima menit di peron enam, kereta yang akan membawa saya datang. Selalu kosong, selalu damai, selalu terasa nyaman karena melawan arus jutaan pekerja arah Sudirman sana. Hanya di saat ini, saya selalu bisa mengembalikan ketenangan dan berpikir bahwa ada baiknya kantor di lokasi sekarang. Setelah 15 menit perjalanan, saya kemudian mencari tiga orang asing yang berangkat ke arah sama menuju kantor, patungan biaya taksi, agar hemat. Melintasi jutaan mobil pekerja diramainya jalan tol Jorr. Biasanya saya akan turun langsung di depan kantor, masuk melintasi penjaga gedung, menyapa selamat pagi, berusaha bersikap baik dan tersenyum, menunggu lift turun dan naik membawa saya ke lantai dimana saya akan menghabisi hampir sembilan jam ke depan.
 
Ah. Apa saya harus bercerita apa yang saya lakukan biasanya selama sembilan jam tersebut?
 
Biasanya setelah saya menaruh tas di meja saya, menyapa rekan kerja seruangan. Memasang muka dingin ke bos di samping. Lalu mengambil biji kopi dan membawanya ke pantry untuk di ubah menjadi segelas kopi susu hangat.
 
Kembali ke meja, membuka email, cek jadwal meeting (dan mengecek apakah ada meeting super maha penting dengan atasan saya), mempersiapkan materi meeting, mengecek apakah ada laporan penting yang harus dikirimkan hari ini, melakukan pekerjaan detil, meeting sana-sini, masalah di sana-sini, dan akhirnya makan siang yang super cepat. Kembali bekerja dan repeat.

Repeat. And repeat.
 
Bagaimana? anda bosan? apalagi saya yang menjalani hidup ini.
Setelah sekian lama akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak melakukan apa-apa di sini. Apakah ini karena saya masih mencari jati diri? Sudah cukupkah saya di sini?

Sebenarnya tidak ada masalah disini. Semuanya baik-baik saja. Hanya saja semua ini terasa tidak menantang, tidak ada yang saya pelajari lagi. Semuanya semu. Hanya lewat di hati.

Akhirnya saya sadar; saya harus pergi.

Lagi.