30.5.13

Sell ticket concert of Supershow 5 Indonesia

I feel like want to talk with someone but it seems it comes out at the wrong time. Yes, I am facing the hardest time in this semester, THE FINAL EXAM period. Well, you must know my routinity to be so stressed out with all of the deadline and material that I have studied.

I made a crazy decision about three weeks ago. I bought one ticket concert of supershow, Super Junior in Indonesia and now I regret that decision. I am suffering to spend my time whether I have to study or doing assignment. Whether I should study while queuing to redeem my ticket concert or just sold the ticket.

I did posting a thread at one of the largest forum in Indonesia about my plan to sell the ticket but people rather afraid to buy so expensive ticket. I did really a crazy decision back then now I suffered!!

19.5.13

1st time marathon around neighborhood

Morning, busy people! This Sunday morning is definitely beautiful one since I started it with good activity! You know what? After about three months do not exercise and running, my body gettibg weaker and sress easily attack me but yesterday I invited mom and dad to join me marathon tomorrow morning, they agreed and we really did it!

Whoa, firsly to separated with your bed is one of a kind and it was heavy thinga to do. But with yelling from Mom, I successfully to move out into bathroom. Then after finished prepare with exercise suit, we took a ride to BKT, a name of exercise park near my house. We reached the scene and I amazed with how many people already gathered around 6 AM and have running, also exercising, taking a deep breath. It was really a peaceful scene of my life. The best part when you take a running, you enjoyed it and behind you there were many cars queueing front of traffic light and seemed hurt because have to catch a deadline to deal. And I was happy, very happy to proud of can spare a little time doing me things, with my body that have a long time I don't care to.

So fellas, have a really great nice weekend! Let's exercise next time for your health ♥

18.5.13

Self-esteem, what's that?

About two days ago, I met old friend in my class and suddenly we made appointment to lunch together. Since my class was cancelled and I didn't know what should I do to spent it, I decided to follow her and join her lunch. Well, that's a good decision I've made for that day, because I kinda miss her and also surprised to hear many things personally that had been long time I never talk to with friend. Sort of.

The point is, it seems like I have made a rank for everyone and I set the loweat point for myself. That's I got from my conf with her couple days ago. She kinda suprised how I value myself and I kinda shock how selfish I am. The fact is I don't really that bad and I should be more confident about my will and power. I don't know what exactly happened with me but I promise to make it like those old days, that I am very very proud of myself, so I can do anything rightly fabulously.

[The first time writing post while in train, supplemental]

Konsep berbagi sebagai salah satu faktor untuk menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia

Sudah sekian lama tinggal di Jakarta membuat gue kebal dengan pemandangan orang meminta-minta dijalan, kakek nenek yang terlantung-lantung di kereta atau anak kecil yang tidur di pinggiran jalan. Setiap kilometer berjalan bisa dipastikan kita bisa menemukan mereka di Jakarta. Tidak jauh dari mereka, bisa dilihat orang kaya dengan mobil mewah atau rumah super besar, anak kecil yang bermain gadget mahal, atau restoran yang menjual makanan mahal. Pemandangan itu merupakan tanda yang mudah kita kenali sebagai kesenjangan, dan di Jakarta pada tahun 2012 berdasarkan survey yang dialkukan BPS, tingkat kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin semakin lebar. Walaupun si Miskin mengalami peningkatan pendapatan, tapi peningkatan pendapatan si Kaya melebihi si Miskin hingga berkali-kali lipat.

Sebenarnya konsep pemerataan pendapatan sudah dilakukan oleh negara dengan banyak cara melalui konsep pajak dan adanya bantuan seperti subsidi dan program bantuan berupa beasiswa dan jaminan kesehatan, pendidikan, dan usaha. Tapi mengapa tingkat kemiskinan di Indonesia layaknya ilalang di halaman rumah, tebas sedikit tapi tumbuh seribu? Mengapa tingkat kemiskinan di negara kita walaupun mulai menurun namun rentan bila garis kemiskinan di geser sedikit ke kanan ($/PPP)?

Setelah mengikuti kelas Perekonomian Indonesia di semester ini, sebenarnya pemerintah sedang menjalani program untuk mengatasi masalah kemiskinan ini. Subsidi BBM misalnya, konsep dasarnya adalah untuk menurunkan jumlah si Miskin dengan tidak langsung berkontribusi menurunkan biaya transportasi dari bahan makanan sehingga harga makanan diharapkan juga ikut turun dan mudah dijangkau. Sayangnya, konsep dan model terkadang tidak semudah itu dijalankan si kenyataan. Terlalu banyak asumsi ceteris paribus yang digunakan sehingga pemberian subsidi BBM tidak layak lagi dilanjutkan. Mengapa gue berpikir demikian?

Dalam keranjang belanja konsumsi si Miskin yang digunakan sebagai dasar penetapan garis kemiskinan, ternyata biaya transportasi, seperti ongkos angkot atau BBM hanya sebesar 7% dan yang paling besar adalah beras dan bahan makanan pokok lain seperti cabai dan bawang berturut-turut sebesar 29% dan 28%. Bisa dilihat bahwa bagi si Miskin, mau BBM naik atau tidak, bukan menjadi perhatian dan pikiran. Yang penting 'saya bisa makan hari ini' lah yang menjadi concern mereka. Walaupun begitu, memang dalam kelompok rata-rata penduduk, proporsi transportasi dari pengeluaran masyarakat mencapai 19% sehingga kenaikan harga BBM akan lebih terasa efeknya.

Sebagai warga negara yang setiap hari dipaksa berpikir dan masih memiliki jiwa idealis, seenggaknya kita sebagai manusia bisa loh berpartisipasi dalam rangka membantu si Miskin agak tenang hidupnya. Well, beda dengan kita yang tiap hari stress memikirkan tugas dan nilai akhir, buat mereka urusan perut adalah problematika yang harus dihadapi sendirian. Menurut Suahasil Nazara dalam salah satu kuliahnya, ada tiga cara yang sering dilakukan si Miskin untuk bertahan hidup: 1) Berhutang, 2) Jual aset, dan 3) Menurunkan tingkat konsumsi alias nggak makan.

Apalah daya karena keterbatasan dana dan waktu, gue sebenarnya miris banget lihat anak-anak dan jompo mengemis di jalanan atau stasiun dan kereta ekonomi. Dengan konsep pemikiran serta kreativitas, sebenarnya kita bisa bantu mereka. Di sini gue pengen mengajak para generasi muda untuk menanamkan sikap berbagi dengan si Miskin untuk membantu mereka bertahan hidup. Berbagi bukan hanya dengan uang loh, tapi dengan makanan! Caranya mudah banget, kalau kalian lihat anak kecil atau jompo minta-minta, jangan berikan uang tapi berikanlah roti, susu, atau nasi bungkus. Hal ini bisa menghindari mereka untuk membeli rokok atau miras yang jauh dari maksud baik kita memberikan uang. Jadi dengan berkurangnya satu masalah, uang yang mereka punya bisa digunakan untuk hal lain seperti kesehatan atau pendidikan.

Memberikan makanan memang bukan solusi efektif untuk langsung menurunkan tingkat kemiskinan, menurut gue pendidikan memang hal yang utama agar dapat memutus lingkar setan tersebut. Dengan dua konsep ini, uang yang mereka miliki bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat dan tidak digunakan pada hal-hal yang tidak bermanfaat.

Selain bisa membantu mereka mengurangi permasalahan hidup, kita juga bisa meningkatkan kebahagiaan kita! Kok bisa? Iya, soalnya dengan melihat senyum atau mendengar kata terima kasih mereka, secara nggak sadar diri kita bereaksi dan terjadi reaksi kimia dalam diri, sehingga tingkat stress berkurang dan preventif penyakit berat seperti jantung. Hebat kan? Jauhnya, dan buat yang agamis, hal ini juga bisa bantu kita masuk surga secara bisa nabung pahala.

Dengan berbagi makanan yang kita punya kepada si Miskin, seenggaknya kita mahasiswa bisa turut andil dalam partisipasi perbaikan ekonomi negara. Yok dijadikan kebiasaan, lebihkan membeli makanan untuk diberi kepada sesama :)

14.5.13

Last chapter and new hope

Baru sekali ini gue sedih karena selesai mata kuliah. Biasanya gue bakal senang karena bisa nyelesain kuliah lebih cepat, jadi ada waktu lebih buat belajar UAS. Tapi nggak, dua mata kuliah ini malah bikin gue segalau-galaunya dan sedih karena nggak bisa lagi denger pemikiran luar biasa dosennya. Sesedih itu.

Gue pernah cerita, kalau gue senang banget kuliah hari Senin di semester ini karena ada dua mata pelajaran yang diajar oleh dosen yang sama, namanya Bapak Handowo Dipo. Universe should know this amazing person that giving breakthrough in the dark side of teaching method of FEUI. Walaupun terkadang pemikirannya sangat bersifat ekstrimis dan memunculkan banyak pro-kontra di kelas, tapi disitulah kelas hidup, kami hidup. Memang perubahan sistem pengajaran yang dibawa oleh Pak Handowo Dipo (sebut saja HD) tidak bisa langsung diadaptasi oleh kami yang sudah lama diajarkan cara belajar 'menerima segala jawaban' dari kecil. Di kelas ini, Pak HD selalu bertanya, bertanya, bertanya, walaupun dijawab sunyi. Tapi gue yakin kita semua dikelas menjawab dalam hati dan pikiran kita berputar, berimajinasi menjawab pertanyaan luar biasa pak HD.

Sebenarnya, gue pengen menuliskan setiap pemikiran yang dia antarkan ke kelas di blog ini. Tapi sayang, waktu sangat tidak memungkinkan. Tapi untuk dua kelas pertemuan terakhir, gue pengen mengingatnya terus sampai besar nanti, ajaran penting dan dasar dari setiap pertemuannya.

Dosenku ini punya karakter dan cara pandang yang beda. Di kelas, beliau selalu memulai kelas dengan pertanyaan atau memutarkan video untuk kami amati, apa yang bisa diambil dari video tersebut. Beliau selalu menjelaskan suatu hal dengan tulisan di buku-buku dan artikel bagus serta tokoh inspiratif, misalnya Steve Jobs atau Warren Buffet. Mendengarkan beliau memaparkan kisah dan cerita di depan kelas dari artikel yang gue juga bertanya dapat dari mana info tersebut. Setiap akhir kelas selalu membuat otak gue meluap-luap penuh dengan hal baru.

Beliau tidak pernah terlambat sekalipun di kelas. Selalu datang setengah jam lebih cepat di kelas, ini agak sulit buat gue yang pulang pergi dan kelasnya yang jam 08.00, dipastikan gue selalu datang terlambat. Mungkin beliau kesal atau kecewa, pernah suatu ketika menasehati kelas (dan gue ngerasa itu buat gue) bahwa telat menandakan tidak profesional dan komitmen pada kelas, menandakan ketidakseriusan, susahnya untuk bisa dapat nilai bagus apabila tidak ada niat dari diri. Jleb.

Beliau selalu menegaskan akan hal profesionalisme dan komitmen pada hal yang kita jalani, dalam salah satu pertemuan, beliau mengajarkan agar kami memilih pekerjaan yang kami cintai dari hati dan dia berusaha menerangkan konsep 'ekstrimis' dimana hindarilah ikut-ikutan atau sesuatu yang mainstream, karena hal tersebut tidak mungkin bisa menjadi sesuatu yang merubah sistem. Beliau pernah menantang kami melakukan hal ekstrim demi nilai A. "Buat yang wanita, yang minggu depan datang dengan kepala botak akan dapat nilai A dan yang laki-laki bila datang dengan rok dan hak tinggi seharian, langsung dapat A!", tentu tidak ada yang berani, mana mungkin haha. Maksud dalamnya adalah, beliau ingin salah satu dari kami kelak bisa menjadi agen perubahan di negara, menjadi orang yang bisa berdiri sendiri, independent, dalam berkarya dan menghasilkan uang. Bukan hanya menjadi budak korporat yang tidak bisa menunjukkan kualitas individual dan kepintaran dan harus patuh kepada aturan perusahaan, dia ingin kami mencari potensi lainnya selain hal-hal normatif di buku pelajaran, mengembangkan potensi tersebut, lalu dipadukan dengan apa yang telah kami pelajari dari FEUI, agar kelak bisa menjadi orang yang mempunyai nilai dan dihargai di komunitas. Begitulah (ingatnya bikin merinding lagi).

Beliau pernah satu sesi kelas memutarkan video klip Noah, Pink, Black Eyed Peas yang dibandingkan dengan Ari Lasso dan Stinky. Maksud beliau untuk menekankan kreatifitas dan imajinasi, artistik, adanya kemampuan yang susah dimiliki oleh banyak orang, dan profesionalisme serta kerja keras yang digambarkan oleh konser Pink (nyanyi sambil akrobat) hingga akhirnya konser tersebut sukses dan menjadi buah bibir dimana-mana. Kerja keras, profesionalisme.

"Jazz vs Dangdut. Perusahaan Jazz yang mana, dan yang dangdut yang mana?" dua-tiga pertemuan sering sekali beliau bertanya hal tersebut. Ya, beliau bilang Jazz adalah musik dimana tidak memerlukan visualitas, yang dihargai adalah kualitas dan artistiknya nada. Lalu beliau memutarkan video Ratu Jazz, yang sebelumnya menantang kami, "Siapa yang bisa meniru video yang akan Aku putar? langsung Aku beri nilai A" kata Pak HD. Untunglah tidak ada yang maju, bener-bener baru tahu ada penyanyi jazz sekeren Ella Fitzgerald, yang bisa memainkan alunan jazz lewat mulutnya. Sehabis itu, beliau memutar video dangdut dengan volume maksimal si Lina Marlina, wah sekelas langsung heboh. Pada intinya, setelah itu beliau memaparkan bahwa di perusahaan dengan konsep dangdut, kualitas individual kami tidak akan bisa terlihat, seberapapun pintar kita, akan tunduk oleh peraturan perusahaan dan atasan. Berbeda dengan perusahaan Jazz yang menghargai kualitas dan mendorong untuk mengembangkan potensi. Nah, beliau berkesimpulan kecenderungan perusahaan besar bersifat dangdut. Salah satu perusahaan terkenal yang berkonsep Jazz adalah Ferrari.

Juga kerap beberapa kali beliau membandingkan universitas kami yang tercinta, dilihat dari kode etiknya dengan salah satu kode etik institut terbaik di Bandung. Beliau menilai, dari segi kualitas sudah dapat tercermin dari kode etik yang dibuat, bagaimana universitas tersebut. UI dinilai masih kurang baik dalam membuat kode etik, intinya begitu. Lalu dibandingkan lagi dengan bagaimana University of Yale dalam menuliskan filosofi dan cara belajar mereka. Dia mendorong kami di kelas untuk belajar akan hal-hal dasar seperti menulis, quantitative reasoning, dan ilmu bahasa asing sebagai ilmu yang benar-benar dipegang. Sedangkan pelajaran seperti Bisnis Global (yang beliau ajarkan) harusnya hanya dipahami cara pikir penulisnya, informasinya, jangan dihafal mentah-mentah karena informasi dan hal yang tertulis dalam buku tersebut hanyalah 1/sekian dari yang terjadi di kenyataan. Beliau selalu menekankan agar kami dapat berpikir secara kritis dan kreatif, melihat dari berbagai sisi dan berpikir ala Sunao Mind. Jangan langsung mencari jawaban dari pertanyaan, tapi mempertanyakan pertanyaan yang ditanyakan, yang kemudian baru dijawab pertanyaan tersebut. Jawaban yang muncul lalu harus dipertanyakan lagi sehingga pada akhinya benar-benar tidak bisa dipertanyakan., itulah yang disebut berpikir. Quesioning everything.

Ah, satu lagi. Identik dengan begitu pintarnya figur beliau, sudah tertebak dan jelas tentu beliau mempertanyakan akan konsep agama dan tuhan. Ada beberapa pertemuan beliau menjadikan Islam sebagai salah satu bahan diskusi, kami diajak untuk mempertanyakan hal-hal yang sudah wajar di Islam, beliau mengajak kami melihat dari lingkup yang luas dan dari sisi yang berbeda, berimajinasi mengkondisikan kondisi. Pada akhir kelas, beliau tidak menyatakan islam benar atau salah, luar biasa. Di akhir pertemuan ini, beliau menceritakan perjalanannya yang telah membaca sekian banyak buku dan informasi, dan menyimpulkan agama yang menurutnya benar adalah Buddha dan mendoakan kami (walaupun jarang berdoa dengan kepercayaannya yang lama) dengan tangan dikepal agar kami semua sukses dalam kehidupan. God bless you, sir!

Juga, beliau membahas salah satu hal yang menurut gue sangat-sangat-sangat sensitif bagi gue pribadi. "Menurut kalian, selama pertemuan dari awal hingga akhir, apa Aku menjelaskan hal-hal yang bias gender?" secara tiba-tiba kemarin. Salah satu diantara kami, menjawab iya, karena beliau pernah mengajarkan profesionalisme, pembagian waktu 24 jam untuk pekerjaan dan keluarga, dimana profesionalisme dan komitemen untuk 24 jam pekerjaan tidak mungkin dilakukan oleh wanita. Beliau menyatakan betul, tanpa dia sadari, memang hal yang telah diajarkan sulit untuk diterapkan oleh wanita, karena hakikatnya untuk mengurus anak dan suami serta dapur. Sehingga, wanita yang bisa menjajaki puncak karir, antara memilih untuk meninggalkan keluarga atau tidak menikah (dan langsung membuat gue melek, karena pilihan kedua adalah pilihan yang sudah lama gue pilih). Menurut beliau, wanita hebat bukanlah yang bisa menduduki jenjang karir tertinggi dan kaya, lalu suami yang berada di dapur ataupun yang tidak menikah. Namun wanita hebat, adalah wanita dibalik lelaki yang hebat, yang bisa mendorong lelaki tersebut untuk hebat, seperti penulis Ang Lie yang terpuruk namun istrinya mampu memotivasi dan mencari nafkah bagi Ang Lie, hingga akhirnya Ang Lie mampu bangkit dan sukses. Personally, hal ini membuat gue berpikir lagi akan keputusan kekanak-kanakan dan keras kepala tentang tidak menikah dan hidup sendiri.

Lalu, beliau menanyakan "Menurut kalian, apa yang sebenarnya harus kalian kejar di dunia ini dengan apa yang kalian pelajari selama ini selain uang?" kami menjawab kebahagiaan dan kenikmatan, beliau menampik bahwa semua hal tersebut sama saja dengan uang. Lalu beliau menjelaskan bahwa pada akhirnya, kami harus mengutamakan kesehatan. Karena dari tubuh yang sehat, maka kami bisa berusaha keras, berjuang mengerjakan berbagai macam tugas dan pekerjaan, dapat berpikir dan membaca lebih banyak, hingga akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia. Kira-kira begitu.

Di lima belas menit terakhir, beliau berusaha memberikan semua yang beliau ingin bagikan. Mengharukan, karena gue pribadi nggak mau kelasnya berakhir, pengen terus dengar seluruh hal menakjubkan yang nggak pernah gue tahu. Beliau bercerita layaknya seorang ayah di depan kami semua. Begitu banyak kisah dan hal yang bisa dipetik dan diterapkan dalam kehidupan kami kedepan. Pada akhir kelas, kami memberikan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya pada beliau dan bertepuk tangan. Sungguh 10 pertemuan yang sangat merubah hidup bagi gue. Terima kasih banyak, Pak Markus Handowo Dipo!!

PS: Kalian yang kuliah di FEUI pasti rugi, lulus tapi belum pernah di ajar oleh beliau :)
PPS: Mau ambil kelas Manajemen Keuangan Lanjutan pak HD ah semester depan :D