12.2.12

Sekolah 5 senti


Oleh: Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia
Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, saya sering tertegun melihat orang-orang Yahudi orthodox yang penampilannya sama semua. Agak mirip dengan China di era Mao yang masyarakatnya dibangun oleh dogma pada rezim otoriter dengan pakaian ala Mao. Di China, orang-orang tua di era Mao jarang senyum, sama seperti orang Yahudi yang baru terlihat happy saat upacara tertentu di depan Tembok Ratapan. Itupun tak semuanya. Sebagian terlihat murung dan menangis persis di depan tembok yang banyak celahnya dan diisi kertas-kertas bertuliskan harapan dan doa.
Perhatian saya tertuju pada jas hitam, baju putih, janggut panjang dan topi kulit berwarna hitam yang menjulang tinggi di atas kepala mereka. Menurut Dr. Stephen Carr Leon yang pernah tinggal di Yerusalem, saat istri mereka mengandung, para suami akan lebih sering berada di rumah mengajari istri rumus-rumus matematika atau bermain musik. Mereka ingin anak-anak mereka secerdas Albert Einstein, atau sehebat Violis terkenal Itzhak Perlman.   
Saya kira bukan hanya orang Yahudi yang ingin anak-anaknya menjadi orang pintar. Di Amerika Serikat, saya juga melihat orang-orang India yang membanting tulang habis-habisan agar bisa menyekolahkan anaknya. Di Bekasi, saya pernah bertemu dengan orang Batak yang membuka usaha tambal ban di pinggir jalan. Dan begitu saya intip rumahnya, di dalam biliknya yang terbuat dari bambu dan gedek saya melihat seorang anak usia SD sedang belajar sambil minum susu di depan lampu templok yang terterpa angin.Tapi tahukah anda, orang-orang yang sukses itu sekolahnya bukan hanya 5 senti? 
Sekolah 5 senti dimulai dari kepala di bagian atas. Supaya fokus, maka saat bersekolah, tangan harus dilipat, duduk tenang dan mendengarkan. Setelah itu, apa yang dipelajari di bangku sekolah diulang di rumah, ditata satu persatu seperti melakukan filing, supaya tersimpan teratur di otak. Orang-orang yang sekolahnya 5 senti mengutamakan raport dan transkrip nilai. Itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya. Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5 sentimeter ke bawah.
Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari atas, melainkan dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti, hingga ke lutut. Kata Bob Sadino, ini cara goblok. Enggak usah mikir, jalan aja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas. Cuma, mulai dari atas atau dari bawah, ternyata sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal. Tergantung berhentinya sampai di mana.
Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu, ia hanya menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir tak bisa ngomong, menulis, apalagi memberi contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai dengkul saja, seperti menjadi pengayuh becak. Keduanya sama-sama berat menjalani hidup, kendati yang pertama dulu bersekolah di ITB atau ITS dengan IPK 4.0. Supaya bisa menjadi manusia unggul, para imigran Arab, Yahudi, China, dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka tidak sekolah hanya 5 senti, tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. Pintar itu bukan hanya untuk berpikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki, dan mulut sama-sama disekolahkan dan sama-sama harus bekerja. Sekarang saya jadi mengerti mengapa orang-orang Yahudi mengirim anak-anaknya ke sekolah musik atau mengapa anak-anak orang Tionghoa ditugaskan menjaga toko, melayani pembeli selepas sekolah.
Sekarang ini Indonesia sedang banyak masalah karena guru-guru dan dosen-dosen nya –maaf- sebagian besar hanya pintar 5 senti dan mereka mau murid-muridnya sama seperti mereka. Guru Besar Ilmu Teknik (Sipil) yang pintarnya hanya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar Jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di Padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya. Mereka menulis karangan ilmiah dan memberikan simposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan di lapangan. Yang sekolahnya 5 senti hanya bisa berkomentar atas komentar-komentar orang lain. Sedangkan yang pandainya 2 meter cepat kaki dan ringan tangan. Sebaliknya yang pandainya dari bawah dan berhenti sampai di dengkul hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohi orang-orang pintar, padahal usahanya banyak masalah.
Saya pernah bertemu dengan orang yang memulainya dari bawah, dari dengkulnya, lalu bekerja di perusahaan tambang sebagai tenaga fisik lepas pantai. Walau sekolahnya susah, ia terus menabung sampai akhirnya tiba di Amerika Serikat. Di sana ia hanya tahu Berkeley University dari koran yang menyebut asal sekolah para ekonom terkenal. Tetapi karena bahasa inggrisnya buruk dan pengetahuannya kurang, ia beberapa kali tertipu dan masuk di kampus Berkeley yang sekolahnya abal-abal. Bukan Berkeley yang menjadi sekolah para ekonom terkenal. Itupun baru setahun kemudian ia sadari, yaitu saat duitnya habis. Sekolah tidak jelas, uang pun tak ada, ia harus kembali ke Jakarta dan bekerja lagi di ring lepas pantai.
Dua tahun kemudian orang ini kembali ke Berkeley dan semua orang terkejut kini ia bersekolah di Business School yang paling bergengsi di Berkeley. Apa kiatnya? “Saya datangi dekannya dan saya minta diberi kesempatan. Saya katakan, saya akan buktikan saya bisa menyelesaikannya. Tetapi kalau tidak diberi kesempatan bagaimana saya membuktikannya?” Teman-temannya bercerita, sewaktu ia kembali ke Berkeley, semua orang Indonesia bertepuk tangan karena terharu. Anda mau tahu di mana ia berada sekarang? Setelah meraih gelar MBA dari Berkeley dan meniti karirnya sebagai eksekutif, kini orang hebat ini menjadi pengusaha dalam bidang energi yang ramah lingkungan, besar, dan inovatif. Saya juga bisa bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama seperti Anda, tetapi mereka tidak hanya pintar bicara melainkan juga berbuat, menjalankan apa yang dipikirkan dan sebaliknya.
Maka jangan percaya kalau ada yang bilang sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya. Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga tidak masalah. Yang penting jangan berhenti hanya 5 senti atau 50 senti. Seperti otak orang tua yang harus dilatih, fisik anak-anak muda juga harus disekolahkan. Dan sekolahnya bukan di atas bangku, tetapi ada di alam semesta, berteman debu dan lumpur, berhujan dan berpanas-panas, jatuh dan bangun.
source: Kuntawiaji

Kalau seperti ini saya mau..

click to enlarge

10.2.12

เริ่มต้นอีกครั้ง

ทรงกลด!
เมื่อเร็ว ๆ นี้ ฉันไม่สนใจตามตัวอักษรซึ่งมีการเขียนผิดปกติเช่นเดียวกับภาษาไทย ดังนั้น ให้ ฉันได้เรียนรู้บิตของภาษา. ภาคเรียนสี่ที่กำลังจะ เริ่ม แน่นอนในวันจันทร์นี้ วันจันทร์ในภายหลังจะเริ่มเปลี่ยนแปลงมากมายซึ่งก็หมายความว่า ในชีวิตของฉัน ความละเอียด เป้าหมาย สายอาชีพ ในอนาคต และโรมานซ์.

แทนของพูดไม่ชัดเจน ดีกว่าฉันแสดงตารางเวลาของแข็งฉันในภาคเรียนนี้สี่. นี่คือ:


พระเจ้ากับเราอาจ..

ps: aku sedang belajar bahasa thailand sedikit-sedikit. terinspirasi dari uniknya tulisannya yang nggak berbeda jauh dari bahasa pallawa pada zaman kerajaan nusantara dahulu kala. ah, jadi ketagihan walau masih berantakan.

Musyawarah Kerja BOE 2011/2012

2-5 Februari 2012
Villa Cemara, Bogor

regol bersama di villa cemara. deg-degannya bertambah berkali-kali lipat ya Tuhan

Pengurus Inti 2011/2012: Tantiana Maria Cahyani (Sekretaris Umum), Triasa A. Laksana (Ketua Umum), dan Ranisa Primastuti (Bendahara Umum)

Calon-calon ketua umum BOE 2012/2013

suasana sidang oleh anggota BOE, santai tapi disiplin

Pengurus inti tahun kepengurusan 2012/2013 (yeey): Edo Irfandi (Ketua Umum), Sheila Putri G. (Bendahara Umum) dan Edo Yuliandra (Sekretaris Umum)

nonton video awards karya psdm-- kocak-kocak

cheers angkatan 2008!

Pengurus BOE tahun 2011/2012

sekte sesusatu

ah, pengurus docdays dari BOE

BOE 2011/2012

Hublu dan PI 2011/2012 :"")

Satu tahun sudah aku mengabdi kepada BOE di bagian hubungan luar. Banyak hal yang harus di evaluasi dan diperbaiki. Setelah kepengurusan berganti dengan susunan yang baru. Hublu juga mengalami banyak--sekali perubahan dalam struktur anggotanya. Kini yang tersisa hanya aku dan Rina. Selda dan Fay pindah ke divisi impian mereka, Kajian dan Penerbitan. Walaupun begitu, tanpa mereka, semoga kami berdua bersama kabiro dan wakabiro yang baru serta Zahara yang baru bergabung dengan hublu, dapat menjalankan hublu dengan lebih baik. Semangat BOE 2012/2013. Sebatas kata-kata bukanlah budaya kami!


ps: salam sayang dari kami untuk mas karnoe di atas sana. doakan terus BOE ya mas :")

Exécutez


saat kau terjatuh dan tersungkur, ketika kau berlari kencang mengejar harapan
janganlah hal itu membuat dirimu terhenti dan bersedih pada kenyataan
pada rasa sakit yang mengiris-ngiris pedih sekujur tubuhmu

saat larianmu begitu pelan dan langkahmu tak seberapa dengan kawanmu
ketika mereka menang beribu langkah didepan
janganlah hal itu membuatmu goyah, yakinlah pada satu arah

kekuatan dan ketegaran menepis segara rasa sakit dan tak kuasa pada dirimu
segala hal pasti akan ada waktunya, ketika mereka telah sampai terlebih dahulu di sana
ada saatnya kelak aku akan tiba menyusul. bukan masalah siapa cepat
tapi Tuhanlah yang tau waktu yang tepat

diriku kini hanya berlari dengan bangga, menikmati tiap deru nafas dan hentakkan
kaki di tanah bumi menyusuri trek kehidupan, berharap aku tidak akan terjatuh lagi
membuat kesalahan yang sama lagi berulang kali. berharap aku bisa berusaha semaksimal
mungkin pada setiap waktu yang aku geluti

agar kelak tiada lagi penyesalan
dalam menyia-nyiakan kesempatan.

bismillah

1.2.12

Regol di FEUI

Halo guys.

Dengan sangat terpaksa gue menceritakan regol ke lima yang gue lakukan untuk semester ke empat ini dengan sangat-sangat dramatis. Karena regol kelima ini sukses dinyatakan terburuk dalam sejarah perregolan buruk di FE. Untuk lebih lengkapnya, gue akan memasukkan beberapa bukti foto kejadian agar kalian mengerti betapa buruknya regol hari ini.

 bermula dari satu tweet bapak birpen tercinta dan adanya salah satu anak FE yang berhasil regol pada jam 12 siang, yang berakibat pedasnya komentar para mahasiswa

Saya pribadi sedang berada di salah satu studio tv swasta. paniknya luar biasa bukan main, terlebih lagi partner regol saya juga tidak tahu kalau regol telah dimulai pukul 12 siang.
Parahnya lagi, regol ini yang harusnya dilaksanakan tanggal 31 Jan yang diundur menjadi 1 Feb, diundur kembali menajdi tanggal 2 Feb. Terpaksa jadwal hari itu harus dikosongkan untuk tetap memandangi layar monitor komputer karena tentativnya jadwal regol. Huff

Harusnya tanggal 2 saya bersama dengan organisasi jurnalistik BOE mengunjungi villa kami di Puncak untuk mengadakan musyawarah kerja (muker). Tapi karena kewajiban akademis yang tertunda karena kesalahan pihak UI, membuat saya harus menunda berangkat bersama BOE dan memilih untuk menyusul dengan beberapa teman yang juga berniat regol di Jakarta.

Doa saya hanya satu; lancarkanlah regolku agar bisa sekelas dengan teman-temanku dan mendapatkan dosen yang murah nilai juga baik mengajarnya, amin ;p

Wah!

Dua puluh tahun hidup, lima tahun di antaranya selalu dalam status naksir, in-relationship, atau TTM dengan seseorang. Now I’m alone, I am loveless, and it’s kind of… weird.

Gue nggak tahu gimana dengan yang lain. Gue juga bukan begawan perkara beginian. Tapi itulah: lima tahun belakangan, gue selalu punya perasaan ‘cinta’ itu. Semacam posesifitas pengen memiliki, pengen disayang, pengen dikirimin gombalan, dan bahkan, jujur aja, lebih dari sekali gue pengen—er, sesuatu yang lebih dari ciuman. Dan perasaan itu terbukti kaya banget.

Mungkin karena gue terlibat jauh sama seni, gue jadi muse-biased. Perasaan hopelessdan tersiksa bikin gue jadi terpacu buat nulis, composing, atau ngelukis yang keren. Curhat, istilahnya. Perasaan disayang bikin gue pengen memonumenkan tiap kejadian sama si dia supaya suatu saat gue nggak lupa. Gue inget rasanya numb, nangis, jadi bego ngebanggain ke banyak orang, dan gue inget juga rasanya, jadi pandir, nggak peduli dikatain apapun sama sekitar yang penting gue sama dia.

But now? No. None. Gue nggak lagi cinta siapapun, nggak deket sama siapapun… all’s… normal. Mungkin karena gue capek dan memaksa diri bunuh rasa dulu. Sekarang gue mati, betulan ‘mati’, rasanya. Almost-almost plain. Mantan yang gue galau-in selama beberapa bulan udah ngomong lagi ama gue. Gue sayang dia lebih dari sayang gue ke beberapa orang, tapi bukan cinta lagi. Friendzone, indeed, tapi gue puas begini. Bulan ini gue udah nolak 3 orang (ga tahu juga kenapa gue laku, orang jelek gini), gue bilang gue gak minat pacaran. Beneran, enggak. Perasaan gue mampus atau gimana, andai gue juga tahu.

Gue hampa. Hidup rasanya buat kerja, belajar buat bakal kuliah, RP sesekali, nulis kalau mood. Gue mulai peduli sama rasa masakan dan berpikir buat nambah piaraan. Gue mulai peduli sama isu dunia dan gantiin nyokab pertemuan kampung pas beliau ga ada. Gue sayang semua orang; tiap gajian gue belikan adik gue mainan atau aksesoris kecil, beliin tart, gitu-gitu. Kalau ada temen butuh apa-apa gue bantu. Supirin lah. Garapin tugas lah. Temenin ngobrol lah. Tapi ketika semua jadi intens dan dia mulai nyoba ‘masuk’ ke zona gue, gue marah.

Gue makan dan hidup dari ucapan “Terima kasih.” Ucapan yang belakangan bikin gue squee-ing lebih daripada “I love you.” atau “Lo keren deh, dll.”

Tapi gue juga jadi lupa cara nulis bagus, bikin lagu, atau melukis.
Ha.
saya dapatkan dari seseorang di tumblr . Sejauh ini aku hanya menemukan kaum hawa yang berpikiran seperti ini, ternyata ada juga lelaki yang lelah dengan perasaan cinta.

Postingan aku yang terdahulu berjudul FREAK, sebenarnya sama persis dengan apa yang digambarkan oleh orang ini. Kecuali ada beberapa perbedaan sedikit dibagian pernah pacaran dan ingin lebih dari ciumannya ya haha. Well, dunia. Beneran semakin mau kiamat sepertinya.

Carpe diem

Kemarin ada suatu kejadian yang lagi-lagi terjadi sama persis di bulan Januari. Ketika suatu hal yang ingin saya lakukan tidak tercapai. Ketika hal tersebut, sudah saya buat rencana panjangnya namun ternyata gagal untuk saya dapatkan.

Ya, tahun lalu saya mendaftar salah satu kepanitiaan bergengsi di fakultas saya. Di mana akhirnya saya mendapatkan kesempatan pada gelombang kedua untuk bergabung, dan mendapatkan begitu banyak pengalaman dan teman dari sana. Tapi tetap saja, kejadian pahit di pertengahan Januari itu membekas dihati. Ada rasa kesal apabila mengingat hal-hal yang harusnya aku dapatkan bila dapat bergabung dengan mereka.

Dan tahun ini, kejadian pahit terulang kembali. Saya ditolak oleh salah satu organisasi. Sudah sampai pada tahap wawancara, namun karena suatu kebimbangan yang melanda saya, membuat cara berbicara saya kepada pihak pewawancara terpengaruhi. Mungkin itulah jawaban doaku malam sebelumnya.

Mempertimbangkan otakku yang pas-pasan dengan indeks prestasi kumulatif yang juga pas-pasan, tidak ada toleransi lagi bagiku untuk terus melalaikan tugas untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Terlalu banyak aktif di kampus ternyata tidak begitu memberikan banyak manfaat; terkadang membuatku terlalu stress dan uang habis terkuras, pola makan berantakan, dan tugas dosen terbengkalai. Belum lagi komitmen yang mengikatku untuk mau tidak mau terpaksa cabut kuliah atau asistensi kelas demi hadir di dalam acara.

Diskusi panjang lebar dengan senior, dengan para dosen pembimbing, dan akhirnya kepada orang tua. terpaksa aku memutuskan untuk mengurungkan niat berorganisasi dan kepanitiaan terlalu banyak untuk semster ini. Ada begitu banyak pencapaian baru yang benar-benar baru, yang harus kutempuh di semester ini. Rencananya, minggu depan aku akan menyempatkan membuat 'garis start' pencapaian baru itu. Bersama-sama dengan sahabatku yang memiliki tujuan serta visi misi yang sama, semoga aku bisa terus tetap fokus dan tidak mudah tergoda rasa nafsu untuk aktif dalam lingkungan.

Anyway, guys. Semester empat di fakultas ekonomi jurusan akuntansi benar-benar wow. Dengan adanya kebijakan baru dari Biro Pendidikan yang memperbolehkan mahasiswa dengan IPs >3,5 mengambil 24sks membuat gempar satu fakultas. Bagaimana tidak, 21 sks di FE sama dengan cerdas. 24 sks? bisa dimusuhi dan dianggap orang ambisius se-fakultas kali ya haha.

Hal ini muncul karena FE tidak memperbolehkan adanya semester pendek bagi mahasiswanya yang ingin cepat lulus (3,5 tahun). Semester pendek hanya ada bagi mereka yang ingin mengulang mata kuliah. Itu adalah kabar indah bagiku dan temanku, dimana salah satu pencapaian kami dapat terwujud.

Setelah menulis, perasaan tertekan, bersalah, campur aduk yang dari kemaren malam aku rasakan sekarang berangsur-angsur hilang. Semoga apapun yang telah aku tempuh selalu diberikan restu dan ridho-Nya sehingga menjadi yang terbaik bagiku kedepannya.

Semangat regol!

*besok aku akan syuting bareng teman-teman untuk mencari dana di acara reality show tivi segitiga biru, yang pagi-pagi itu loh. Doakan aku menang yaa, soalnya temanku udah dua kali menang ;)