15.7.11

Ester bangun-bangun langsung ngomongin bintang Korea pujaan hatinya, Kim Hyun Joong yang katanya ganteng. Pembicaraan ngalor-ngidul kita dari si artis korea berlanjut ke pembicaraan pernikahan dan bagaimana tua nanti mau menghabiskan waktu. Karena kita sama-sama penyuka musik klasik, kita berencana mau tinggal di winna mengunjungi setiap konser dan orkestra yang ada di negara itu, mengunjungi makam para legenda, Beethoven, Chopin, tinggal dengan cucu-cucu yang mau bermain harpa dan flute, dibuatkan teh oleh suami yang tampan seperti bintang film walaupun sudah tua. Haha pembicaraan kami memang layaknya wanita seperti biasa.

Tapi rencana bagi gue hanyalah tajuk wacana. Sebagai orang yang menjalani setiap keputusan dari apa yang dia sedang hadapi, gue suka susah menjalani rencana yang telah gue rencanakan. Lagipula, gue nggak suka ikatan dan status yang mengikata. Gue adalah tipe wanita pekerja yang tidak berurusan dengan masalah dapur dan rumah tangga. Kalaupun iya, orang yang akan gue rela untuk mengikat pastilah orang yang sangat special diantara semua orang yang special disekeliling gue saat ini.

Beneran deh, gue penasaran, dengan pemikiran yang terus begini, dengan jalan hidup gue yang begini, dengan keadaan yang begini, gue jadi apa di masa depan nanti. Bisa nggak ya gue merealisasikan mimpi indah di masa tua yang gue bicarain dengan ester diperjalanan kecil dengan BOE ini? Apa gue jadinya tinggal di pegunungan alpen saat tua memerah sapi dan menikmati keindahan alam bersama cucu dan suami? Haha amiiin ya Allah.

Perjalanan sekarang sudah berada di Cikopo. Sedikit lagi sampaiii ‎​\(´▽`)/

Perjalananku bersama BOE

Tulisan ini gue buat dalam perjalanan panjang menuju villa borneo, puncak bersama keluarga besar economica dari depok. Dalam kesunyian menyongsong setiap deru bis kota yang kami naiki, disamping ester yang sedang tertidur lelap karena kantuk tak tahan dalam kendaraan, gue terbawa suasana, mengenang kejadian pagi tadi dikosankku, dua jam yang lalu.

Dua jam yang lalu, tepat pukul 7 pagi, keluarga kosan Pinky merayakan surprise party yang sudah menjadi tradisi setiap keluarga pinky ulang tahun. Hari ini adalah ulang tahun teman kami, sahabat kami, dan suhu kami, Altius :). Jujur, kemarin gue lupa sama sekali kalau dia hari ini ulang tahun, dan jujur dari kemarin gue sama dia dalam kondisi pertemanan yang tidak baik. Gue yang tiba-tiba kesel sama dia bikin segalanya berantakan.

Dari awal, gue emang nggak baik dalam menjalani hubungan pertemanan yang terlalu dekat. Contohnya Altius, dan Wirda. Seiring berjalannya waktu, perlahan demi perlahan gue sendiri yang merenggangkan hubungan pertemanan kami. Gue nggak ngerti kenapa gue begini. Dulu juga, gue memberi jarak pada teman-teman OPK gue yang baik hati.

Di dalam hati, gue sayang mereka semua, dan peduli dengan mereka. Gue sayang semua orang yang gue kenal, tapi gue nggak bisa ngejaga mereka nyaman disamping gue. Gue bahkan nggak pernah memeluk mereka (kecuali yang terdekat). Sentuhan, menurut gue, jarang banget bisa gue lakukan. Orang tua gue, jarang banget nyentuh gue, meluk gue, bahkan adik-adik gue sendiri aja jarang hha. Tapi pengen deh peluk teman-teman, mana tau hubungan yang tadinya gue renggangin bisa kembali lagi kayak awal.

Semakin ke sini, gue beneran butuh teman yang peduli sama gue, bukan hanya dalam hal pelajaran aja.

Balik lagi ke perjalanan dalam BOE, gue sekarang masih di daerah depok. Kayaknya bakalan macet, walaupun ini masih hari Jumat. Ngomong-ngomong, gue sempet-sempetnya aja pergi jalan-jalan meninggalkan setumpuk tugas kuliah dan kepanitiaan di meja kosan dalam tiga hari Щ(ºДºщ) semoga Allah menyertaiku sajalah. Sekarang, gue mau menjalaninya seperti air, tenang namun pasti. Setiap hal pasti ada jalannya.

Oh, ester udah bangun dari tidurnya. Mari balik ke dunia nyata dulu. Laporan perjalanan bersama BOE akan terus berlanjut seiring hariku dan hatiku yang sedang gundah gulana. Caoo

10.7.11

Di dunia ini semuanya diciptakan berpasangan. Bahkan suatu kejadian diciptakan seperti ini. Contohnya, baik dan buruk, juga lahir dan mati. Ya, lahir dan mati. Kita hidup dilahirkan ke dunia ini oleh seorang wanita mulia, dinafkahi oleh seorang lelaki gagah perkasa yang rela mengorbankan dirinya demi keluarga. Dalam proses hidup, kita menghadapi banyak kejadian, kesusahan, kesenangan, kebathilan, kenaifan, keserakahan, keegoisan, dosa hidup silih berganti dilakukan, tangis pilu berharap permohonan maaf Yang Maha Kuasa diturutkan. Silih berganti, kita semua melakukan hal tersebut. Seakan lupa sama sekali, bahwa ajal selalu setia menunggu di sisi setiap manusia. Tinggal meminta persetujuan waktu, kapan itu dapat terjadi.

Banyak kejadian yang tidak tertuliskan di blog ini. Waktu yang padat, badan yang letih akibat menumpuknya tugas dan segudang aktivitas menjadi alasan dibalik ini semua. Menyesal sih kenapa nggak bisa menuliskan sedikit put kedalam blog ini, tapi apa daya.

Ada beberapa kejadian yang nggak boleh gue lupa.

Beberapa hari setelah acara Boeconomi Temu Alumni, bapak para economica meninggal dunia terkena serangan jantung pada hari Jumat seminggu setelah acara, pada saat waktu shalat Jum'at di ruangan Badan Otonom Economica. Kami semua menangis, kami semua menyesal, kami semua berteriak menanyakan kenapa begitu cepat. Para alumni bahkan meminta diadakan kembali acara temu, meminta maaf tidak bisa hadir waktu itu, menyesali kenapa mereka tidak hadir, menyesali, menyesali, dan menyesali.

Yang gue ingat, senyum mas Karno itu begitu indah. Nggak boong. Matanya ketika dia tersenyum, ikut memancarkan sinar. Bukan kesan lagi, tapi tiap dia tersenyum, setiap orang yang melihat akan membalas senyumnya dengan senyum yang sama, senyum yang tulus dari hati. Ya, sama seperti senyum seorang bapak. Gue, mahasiswa baru, baru bergabung dengan organisasi tersebut, bahkan belum sempat minum teh buatan mas karno yang terkenal enak tiada duanya. Bahkan janji kami untuk pulang bersama setelah temu alumni selesai tidak terpenuhi karena mas karno ninggalin gue begitu aja tanpa bilang :(. Andaikan gue punya kenangan yang bisa dikenang dengan orang hebat satu ini. Orang yang berkontribusi terhadap sesuatu dengan seluruh kemampuannya, tindakan yang tidak-setengah-setengah yang sesungguhnya. Orang yang mulia.

***

Hari jumat kemarin, gue tiba-tiba disampaikan berita bahwa guru les bahasa indonesia gue, Bu Diana Leroy meninggal dunia, dipanggil Yang Maha Kuasa begitu cepat karena penyakitnya yang telah diderita. Ya, bahkan gue pernah melihat dia mengeluh karena sakitnya. Seorang guru yang tidak begitu gue kenal, namun dia rela memberikan ilmunya, memberikan kasih sayangnya agar kami dapat mengerjakan soal bahasa indonesia dengan baik dan benar, terngiang cara dia berbicara di depan kelas, meminta kami untuk mengulang kata 10 kata depan..
 di, ke, dari, pada, kepada, dalam, dengan, untuk, bagi, terhadap!

kami semua, waktu itu menghafal dengan bermalas-malasan, masa bodoh dengan segala hal aneh yang diajarkan ibu Diana :'(. Maaf ya Ibu, maafkan segala kesalahan kami. Maaf ya Ibu, kami jarang datang kembali ke sana setelah lulus dan mendapatkan PTN yang kami mau, maaf ya Ibu, maafkan kami..
***

Manusia itu dirinya dipenuhi kegoisan yang membuat dirinya tidaklah mulia daripada seekor binatang. Tapi seorang manusia, memiliki empati dan simpati yang membuat ia terlihat indah. Apa yang salah dari kami, apa yang benar dari kami, kenapa kami selalu melakukan hal yang sama tanpa kami bosani, sesali? Kenapa kami menjanjikan hal yang tidak bisa kami tepati, melakukan hal yang tidak bisa kami penuhi? kenapa kami penuh dengan dosa, Tuhan? Kenapa? Kenapa??

when your nationalism being asked

It happened yesterday, when I went with my college friends to audition for kind of quiz program in one of most station television in Indonesia. We did not know, and did not wish to see those way of audition. The audition consist of ten teams in one room which every team consists of five peoples whom dress weird to attracted funny, joy, and cheerful. Every team shows its jingle in front of all the teams and judges. And we shocked about the questions after first team finished their jingled. He asked someone of them to sing our national anthem: Garuda Pancasila in awkward moves and changed all its vocal words to 'E'. That time, I really shocked and fortunately, all of my friends think the same way. We in silent keep the anger, and said in our heart, 'why you even use your national song as the teaser for audition, for toys to see our silliness?!. I even asked my friend besides me what if I stand up suddenly, interrupts their audition, and get mad to those judges. but my rationality said it was wrong and my friend said so. In silent, in our seats, we mad, we angry, to see those event.

Team by team went front and showed their jingled, and finally times for our team showed ours came. We did it great, our jingle, I think, was the best than the others. And then the question(s) after jingle come out. One of them ask someone of us to showed the jingle individually. He did it good, we even cheered up him from the back. The second question was same, judge asked someone of us to come and perform alone our jingle. And the last question came to me. I came with confident, a little bit action and it will done. But the question was the forbidden words I want to hear from him. Yup, he want me to sing Garuda Pancasila in 'funny' way by changing its vocal words to 'E'.

At that time, without thinking too much and ask permission from my team, I denied him. Really. He was shocked, and I was smile. I explained briefly why I did not want and ask if he can change the songs, ask to not use national songs, said that it really shame for me to sing that way to my country national song for that occasional (which was to having fun, he said). I said that it was same for me as I got naked in front of all of this people. And fortunately all of my friends agreed and we, together, denied judge's request and be strong of the worst case decision: will not be able to pass this audition. Until the last of audition, I still did not change my tenet and the judge still want me to sing Garuda Pancasila. Haha. Come on, what's your purpose for did this to us. It was really not funny at all, and you still can see someone's capability being a clown without blotted your own national song!

Personally, I really disappointed. I did not expect this situation. My soul said it was wrong, and I really do love this country. I just secretly proud of my little action that I did yesterday. I just did something nice for my country, build the nationality hefty. I do love Indonesia, I do. I live and studying in the only one university which can use Indonesia for its name. We proud of our decision! Hidup Mahasiswa! :) :)