17.2.11

give up, officially

Akhirnya gue putuskan kalau gue menyerah. Bener-bener menyerah terhadap satu hal yang selama ini gue perjuangkan mati-matian, yang banyak menghabiskan ruang otak gue untuk berpikir. Mau menyesal juga percuma, akhirnya juga cuma menghabiskan tenaga dan waktu aja. Dari dulu gue udah berusaha tapi akhirnya kalian tahu kan, kalau gue kembali dan kembali lagi mencoba yang nihil akhirnya. Karena kesibukan gue makin lama makin bertambah dan umur gue begitu, gue rasa ini adalah kebijakan yang tepat. Sampai ada waktu yang tepat, sampai gue bisa menemukan yang lain, insya allah nanti gue ceritakan di sini. Dan kalian tahu? Selagi dia menghilang, gue sibuk dengan kesibukan gue yang menumpuk dan menikmati indahnya waktu berjalan diselingi rasa iri dan kasihan pada teman-teman dan diri sendiri haha ironis tapi nggak sesedih yang kalian kira. Satu prinsip yang gue pegang, selagi gue bisa kuat dan sendiri, selagi nasi adalah kebutuhan gue, selagi ada teman-teman di samping gue, untuk apa menyesal dan menyedihi diri sendiri karena status?

Dan lagi, akhir-akhir ini gue sibuk dengan kucing anggora tetangga :') makin pengen pelihara nanti pas udah kerja (◦'⌣'◦)

14.2.11

Si loper koran dan aku

Tepat setelah gue sukses turun dari bikun sore ini, dengan langkah tergopoh-gopoh gue pengen banget nulis blog, karena ada satu kejadian yang pengen gue inget sampai nanti gue dewasa.

Setelah pulang dari kawasan barel, memanjakan diri di tempat rentalan komik dan minum kopi jalanan selagi menunggu fotokopian jadi, gue menuju kutek dengan bikun. sepi, karena memang sudah jam setengah enam sore yang kebanyakan masih kuliah. di samping gue, ada adik penjual tukang koran (jam setengah enam, wow). duduk di samping gue, dia berusaha merayu gue untuk membeli koran dia. gue nggak suka banget baca koran, karena bukan nggak mau, tapi karena nggak bisa bacanya dan suka ribet dengan ukuran kertasnya yang super besar. yang ingin gue ingat dan alasan mengapa gue nulis kejadian ini di blog adalah curhatan curian yang dilakukan oleh sang penjual koran selama perjalanan dari fakultas psikologi sampai kutek (singkat).

Penjual: kak, beli kak.. buat bayar spp sekolah saya..
Gue: wah, maaf dek. saya nggak bisa baca koran
P: (tiba-tiba curhat) saya belum bayar spp kak, makanya saya jualan koran
G: (bingung) bukannya sekolah udah nggak bayar ya dek? kamu sd kan?
P: saya madrasah kak, madrasah masih bayar spp. saya juga harus nahan sakit. saya punya asma
G: ya allah, pindah aja ke sekolah dasar, nanti kan jadi nggak bayar
P: tapi rapor saya di tahan kak, saya harus bayar spp dulu baru bisa pindah
G: emh yaudah, ada kompas nggak?
P: saya ambil koran dari teman, ini aja hasil jualan saya bagi sama teman saya. yang kompas ada di teman saya kak..
G: yaaah.. saya maunya kompas. kamu kalau begitu kapan bisa bayar spp-nya. emangnya perbulan berapa dek?
P: Rp 48.000,- kak. saya belum bayar dua bulan..
G: jadi, Rp 96.000,- ?? (astaghfirullah)

kejadian sebelum kumandang adzan maghrib, kejadian di mana menghentakkan hati nurani gue. rasanya pengen di bikun nangis saat itu juga, satu bikun ngedengar percakapan gue dan si loper koran, anak yang tangguh. nominal spp dua bulan yang terkadang buat kami-kami adalah angka yang biasanya sudah maklum keluar dari dompet dua hari sekali, sedangkan bagi dia, spp dua bulan yang memaksa dia menjual koran? terenyuh, sakit banget hati gue. kalau ada uang, mau banget gue ketemu madrasahnya dan langsung bayar uang spp-nya.. tapi..

pelajaran yang berharga sore tadi. gue diajarkan untuk berhemat dan tidak boros, saling memberi dan peduli. masih banyak yang miskin serta kaum papa yang patut di bantu. kalau anda bisa membantu mengapa tidak dari sekarang, minimal dengan membantu biaya sekolah mereka, memupuk masa depan mereka.. semoga kejadian seperti di atas dari tahun ke tahun, si loper koran makin berkurang di Indonesia. Amin ya Allah :')

5.2.11

Boredom

Setiap rumah ada atap yang membatasinya dengan langit, setiap air akan tumpah dari wadahnya bila melebihi kapasitas. sama seperti itu, gue kayaknya udah mencapai limit kebosanan, atap dari rumah dan kapasitas dari wadah untuk menulis. dalam berbagai arti, menulis adalah segala hal bagi gue, teman hidup gue. tapi rasanya gue harus berhenti sesaat mengingat gue bosan dengan hidup gue yang dari tahun ke tahun sama-sama aja. mungkin kalau kalian sempat baca blog gue dari awal hingga sekarang, ada beberapa postingan yang isinya kira-kira bisa sama dengan postingan sebelumnya, karena kehidupan gue memang itu-itu aja. dan parahnya, akhir-akhir ini semakin menjadi-jadi parah. nggak nyangka hidup perkuliahan gue bakal sama aja kayak hidup sd, smp, sma gue. walaupun udah berusaha mengubah dengan ngekos, tetep aja kalau orangnya berkepribadian begini ya hasilnya juga tetep begini :')

so sad but I think I'll hiatus again, for awhile until I find the best moment or moment that I can shared. Adios, muchos :*