11.1.11

Pro buat Tiffatul

Ya, saya setuju dengan tindakan pak menteri, berbeda dengan kebanyakan orang yang menentang aksi pemblokiran dan banned bagi RIM pada Blackberry. Setelah menyimak dengan seksama tayangan Metro TV hari ini pada pagi hari serta segala komentar dan kritik yang dilayangkan.

Ini pendapat saya, pikiran saya yang melayang setelah menonton acara tersebut, dan membuka beberapa situs yang membicarakan hal yang sama.

Bahwa, mereka (penduduk Indonesia pengguna BB) egois dan bodoh. Itu dua kata yang merangkum semua pernyataan yang akan gue paparkan di bawah.

Egois. iya, itu menurut saya. Kenapa? bisa di lihat sendiri kenapa satu statement tentang Blackberry bisa menimbulkan begitu besar reaksi dalam masyarakat. jawabannya sebagian besar penduduk Indonesia kebanyakan menggunakan Blackberry dan mereka tidak ingin dirugikan secara personal atas tindakan dari pemerintah ini. Seperti yang saya lihat di situs ini mayoritas marah karena merasa akan dirugikan; Blackberry-nya kalau di jual tidak laku lah, ada yang baru beli Blackberry-lah, dengan mengatasnamakan mereka tidak setuju dengan salah satu alasan Pak Tiffatul yang mengatakan pemblokiran RIM karena tidak ada filter situs porno. Padahal, kalau mereka mau membuka pikiran mereka, menghilangkan keegoisan mereka, mereka bisa melihat bahwa tindakan yang dilakukan pak menteri semata-mata atas nama Indonesia, menjunjungtinggikan kepentingan negara yang selama bertahun-tahun secara tidak sadar, masyarakat Indonesia telah di perah bagai sapi demi keuntungan pihak Kanada sana! apakah mereka nggak sadar? baru terbuai fasilitas yang sedikit saja sudah menjadi peliharaan pihak asing. Mana nasionalisme kita?

Mereka marah karena mereka dirugikan secara pribadi, terus kenapa mereka nggak marah atas apa yang dilakukan pihak RIM yang tidak mempatuhi ketentuan yang berlaku di Indonesia? Kerugian mereka pribadi bisalah dikatakan sekitar 5 Juta atau kurang. Tidak lebih. Lalu berapa besar kerugian negara ini? Triliunan! Per tahun! di mana nasionalisme kalian? ke mana rasa cinta terhadap negara ini? Kita nggak mau kan dijadiin pasar aja? belajar sejarah kan? apakah kita mau kembali cuma menjadi pelabuhan para pedagang Belanda dan Portugis yang menjajah kita? Pasti nggak.

Bodoh. Iya secara kasarnya begitu. Apa lagi kata-kata yang tepat untuk menggambarkan reaksi masyarakat terhadap issue ini. Betapa lucunya, masyarakat menghina pemerintahnya habis-habisan dan membela pihak luar sebegitunya. Bolehlah di hina, tapi kalau memang salah. Tapi apakah tindakan Pak Tiffatul ini salah? Saya rasa tidak. Dia hanya menjalankan tugasnya untuk menegakkan peraturan yang berlaku di Indonesia. Kenapa di hujat habis-habisan? Kenapa yang ingin mengakkan keadilan di lakukan semena-mena? Masyarakat apa kita ini?

Kebijakan Pak Tiffatul ini juga tidak serta merta membuat pengguna Blackberry kehilangan nilai guna dari handphone itu sendiri. Toh, kebutuhan utama untuk BBM, telfon, dan sms masih tetap berjalan seperti biasa. Kenapa kita ribut dan menghardik menteri kita sendiri sampai sebegitunya? Kalau untuk kelancaran berbisnis dan kemudahan mengakses internet, dengan bantuan jaringan provider kita masih bisa kok mengakses internet via BB kita tanpa RIM, walaupun nggak sehebat push-emailnya. Untuk email, bisa lah kembali ke laptop anda dengan portable modemnya. Apa yang diributkan toh?

Yang jelas, saya buka komplotan di pihak mana pun, saya bukan antek-antek Pak Tiffatul sehingga mau membela dia, saya juga nggak kenal dan di bayar. Saya hanya mengungkapkan pendapat pribadi saya, yang tercipta karena media massa. Saya hanya mahasiswa semester satu menuju dua yang mencintai negeri ini lebih dari dirinya. Mohon saran dan kritik kalau ada yang tidak berkenan. Terima Kasih :) No offense ya, pengguna BB :)

16 s'inscrire:

hadie said...

wkwkwkwk...
Masih banyak yang bisa diurusi, seperti mengarahkan hacker dan pembuat virus Indonesia, dengan membuat antivirus tercanggi karya anak bangsa...
Pengembangan Jaringan internet berkecepatan tinggi, pengenalan internet ke desa2 yg belum mengenal'...
kan banyak hal positif yang bisa dilakukan dan dikerjakan, tidak hanya mengurusi hal2 porno sperti itu....

Kreatif duonk bung, jangan berpikir dangkal'...

Nadya Komanechi said...

wah lo cuma liat dari masalah porno doang ya? yang mau gue angkat di atas itu masalah ekonomi negara, karena yg porno itu cuma satu dari 8 alasan pask tif angkat. yang dangkal siapa hayo? haha

Cutnay said...

waaah, seru juga bacanya nad, belajar liat suatu kasus dari sudut pandang lain =)

cuma yang selama ini dipermasalahkan ama orang-orang yang protes itu, kita kesel nad ama cara kekanak-kanakan pak tifatul untuk memblokir RIM pake alesan pornografi. nonsense bgt. Makanya orang-orang kesel, hehee

Trus kalo gw mikir, ruginya itu juga bukan sekedar bb gak laku kalo dijual, cuma komunikasi untuk beberapa pihak jadi rebek. Contohnya : anak muda yang banyak punya bisnis online kan maintain bisnisnya lewat bb, kalo bb diblokir, kan kasian, komunikasi ama customer jadi agak gak semudah sebelumnya. Di perkantoran juga, penyampaian tugas, dll jadi rebek. hehehee

Kalo alasan pak Tif memblokir itu sama kaya poin-poin yang lo sebutin, emang ada bagusnya kok. Cuma mbok ya jujur aja alesannya memang itu, jangan bawa-bawa pornografi. Kan jadinya nonsense gitu kesannya di masyarakat. No wonder, belom apa-apa masyarakat udah pada ngamuk sebelum denger penjelasan yang jelas soal ini, hehehee.

Btw, I love ur writings ! ;)

Rae said...

#1, diliat dr aspek ekonomi. RIM itu perusahaan komersil, bukan NGO atau lembaga pemerintah. tanpa ada kantor perwakilan dan service center aja, BB udah booming di Indo. mrk pun akhirnya buka sama sekali bukan faktor tuntutan pemerintah, tp faktor marketing spy ga kehilangan pasar Indo yg konsumtif dan latah.
#2, diliat dr aspek hak akses info & ruang privasi. penerapan UU itu baik, yg jd persoalan adl pembatasan konten info yg bs diakses warga negara oleh pemerintah. jd warga negara cm bs akses info yg "diijinin" pemerintah. itu cikal bakal dan ciri diktatorisme dan negara sosialis.
#3, diliat dr pornografi. pembatasan akses pornografi itu baik, but really, ngapain negara ngatur syahwat warganya? itu peran keluarga dan sekolah, bangun kesadaran thdp pornografi. porn is bad when u're under 21, it's entertainment when u're between 21-45, and it's a therapy when u're above 45.
#4, diliat dr nasionalisme. ini ga ada hubungannya dgn nasionalisme, omong kosong. nasionalisme itu kl kita dianjurin ga pake BB dan RIM, tp beralih pake produk sejenis hasil karya anak bangsa. ini justru nunjukkin kl Indo itu manja, kita yg milih pake produk asing, tp maksa perusahaan itu nglayanin permintaan kita, minta perlakuan khusus, dll. kayak bocah 5 taun yg maksa minta diajak ke Dufan.
#4, diliat dr aspek teknologi. coba baca http://bit.ly/icQyZl

tulisan ini bagus, emang alasan yg kenceng beredar kesannya egois dan bodoh. tp gw pengen nunjukkin sisi lain aja knp tiffie ditentang. mudah-mudahan komen gw ga tll bodoh atau dangkal, tp rasanya ga egois krn gw pun bukan BB user. :)

Nadya Komanechi said...

@cut: emang kesalahannya miscomunication dari kominfo, jadinya masyarakat marah karena satu hal padahal dia punya maksud lain yang lebih bisa di terima. kalau yang masalah bisnis maintain, BB-nya kan tetep jalan, nggak ada yang berubah.. hanya permintaan negara minta ada server dan konten di filter, pembagian hasil pajak dan ngikutin uu kita. BB nya tetep jalan, kita tetep bisa pake BB.. makasih ya cut udah komen. hehe

@#1, iya betul. tapi kenapa sekrang di minta bikin server? karena pemerintah mulai merasa dirugikan karena nggak ada CSR dan bagi hasil layaknya provider lain di indo dan brand2 lain.
#2, cikal bakal diktaktorisme? menurut gue, kita digunain sama pihak amerika sana lho. dengan adanya server di negara sendiri, kita bebas mengatur dan mengurus data tanpa adanya ketakutan di intai pihak amerika. banyak pejabat yang ngomong via bbm, dan pihak sana dengan mudah melacak.
#3, ya mau therapy atau apa.. moral kita udah susah di bangun. kalau mau liat porno liat aja di laptop, kenapa pada marah kalo RIM di batasi serverny untuk porno. iyain aja kan nggak rugi kita.
#4, diliat dr nasionalisme. ada dong. kalau dipikirin jauh, kita secara nggak langsung di jajah. mereka ngeraup keuntungan tanpa sepeserpun berbagi ke kita.. itu dijajahkan?
#4, yg dari aspek teknologi gue 100% setuju :)

Irvina said...

wakakakak
untung saya gak pake BB, malesin deh. saya masih setia dengan nokia, gak bikin ribet kan? halah :p

drsetyorini said...

penggunaan alasan pornografi sebagai pemblokiran memang absurd karena tanpa RIM pun pornografi udah dimana-mana.. tapi dari segi ekonomi dan nasionalisme sih, aku setuju banget! tindakan RIM yang melakukan usaha tanpa mengikuti sepenuhnya aturan yang berlaku ini tidak adil bagi Indonesia.. RIM melanggar UU-ITE, terus negara juga tidak dapat PNBP.. lagipula kalau server dibangun, usaha RIM legal, terjadi penurunan tarif karena servernya lokal, terus negara punya pendapatan.. win-win kan? sayang, kenapa nggak dilakukan RIM padahal sudah diultimatum dari jauh hari.. wajar dan benar tindakan tifatul, terlebih menurut poin ultimatumnya yang ke-8..

penggunaan layanan bb ini memang diakui manfaatnya bagi pengguna, tapi aku yakin tanpa bb pun kelancaran komunikasi tetap terjamin, apalagi fungsi bb kan nggak sepenuhnya hilang.. dan (yes offense to those users) sudah saatnya kita melakukan aktivitas dengan kepala tegak, jangan ngeliatin bb seharian.. jangan mau diperbudak teknologi, apalagi yang bukan buatan anak negeri :)

Nadya Komanechi said...

"...jangan mau diperbudak teknologi, apalagi yang bukan buatan anak negeri :)"

suka banget bagian itu :D bener, kalau mau berdagang harusnya win-win. nggak kayak gini, kita di keruk kayak apaan tau. Semoga beneran bisa di buat servernya di Indo, biar damai lah gitu

mencitkaleng said...

Gw setuju dengan pendapat lo. Yang gw sayangkan, kenapa Pak Tifatul mengatasnamakan pornografi untuk masalah ini. Seharusnya dari awal beliau nerangin masalah ini jelas jelas, biar masyarakat bisa nerima juga.
Reaksi masyarakat yang seperti ini mungkin juga karena masyarakat capek denger kata "pornografi"
Intinya mungkin pak tifatul hanya salah langkah dalam menginformasikan perihal masalah masalah.
Gitu aja comment dari gw. Cmiiw karena gw bukan pakar apa apa.

Nadya Komanechi said...

hai adit :D iya emang dia salah di bagian itu. dan lagi masyarakat terlalu sensi sama kata porno jadinya heboh (menurut gue) makasih ya commentnya :)

AchlamBasalamah said...

Koma, tulisan lo bagus dan timingnya pas jadi orang2 pada dateng ke blog lo haha. Tapi yang jelas gue juga setuju sama pemerintah untuk 'mengancam' RIM supaya dia gak semena-mena.

Mungkin penggunaan kata egois dan bodoh terlalu judgmental, karena kan gak semuanya begitu. Tapi iya, banyak pengguna bb yang gak lebih smart dari smart phonenya. Dan rata2 emang pada komentar duluan sebelum tau apa sih tujuan yang sebenernya dari pemblokiran browser bb itu. Gue gaktau banyak sih tentang IT, tapi kalo di blokir karna tujuannya supaya RIM nurut sama Indonesia, gue 100% setuju. Pemerintah udah selayaknya tegas sama pengusaha. Meskipun kayaknya dengan presiden kita tercinta agak susah ya... (semoga gue gak diculik ditangkep dibuang dimusnahkan karna ini haha)

tobz said...

halo, numpang komen...hehe...yah, ribet memang kalau bahas masalah ini, kadang apa yang diminta pak Tiffatul, bisa dimentahkan oleh beberapa fakta. terutama kalau ngikutin twitter dari pak DanielTumiwa dan beberapa netpreneur atau teknopreneur lainnyaa....banyak banget yang pada nyanggah, dengan alasan yang masuk akal juga.

ga berani banyak komen sih, daripada salah nantinya..cuma, bukan saya bahas pornonya, dari 8 alasan itu, yang digembargemborkan menkominfo, pornografinya yang diutamakan...nah itu saya bingung deh...secara nokia n hp2 lain ga ada blocknya kok...lalu, kalau pake opmin kan masih bisa...jadi bingung deh saya...hehe...dan banyak juga orang jadi "panas" karena mereka pikirnya semua mati ( bbm, email etc ), saya ga seberapa panas sekarang setelah tahu cuma browsing yang mati, sementara saya langganan paketnya gaul :p trus pake opmin deh :)

saya juga bingung lagi nih...kalau per orang bayar rim kira2 7 dolar/bulan, apakah para operator tidak mengambil untung, saya rasa sih tidak mungkin, pasti operator ambil untung..sehingga saya bingung juga itu 7 dolar dapat dr mana angkanya...dan dr operator itu kan ada pajak yang dibayarkan..

masalah pak Tiffatul yang minta konten lokal, nah konten lokal justru sudah berkembang buanyak banget untuk bb, bahkan jadi mata pencaharian banyak orang...terus tentang pekerja lokal, itu menurut pak DanielTumiwa, bahkan ekspat di kantor RIM hanya ada 2, lainnya lokal...

kalau dilihat secara garis besar sih, sebenarnya negara tidak dirugikan...(kecuali masalah server, yang berujung pada sistem keamanan yah..), tetapi negara kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang dari pajak...kedua hal ini berbeda, karena kita para pemakai bb dengan rela dan ikhlas tidak ada paksaan kok mengeluarkan uang. kami merasa sebanding dengan apa yang kami dapat. banyak banget loh kantor yang merasa efektif dan efisien karena pakai bb, banyak yang biaya operasionalnya menurun drastis...tidak perlu telpon, email sepuasnya dll :)

semoga yang terbaiklah untuk keputusan RIM vs Mr Tiffie ini..salam kenal yah..

Nadya Komanechi said...

tenang bi, kita lagi di era demokrasi liberalisasi, emang agak kasar sih setelah gue baca berulang-ulang. tapi nggak apa apa ah, demi opini yang pedas dan menghujam dada haha

Nadya Komanechi said...

wah tobz lebih ngerti daripada gue hehe baru liat berita kemaren pagi. setuju sama lo!

kalau yang untung ttg 7dolar itu.. waktu di berita bilang mereka bagi hasil tapi proporsinya 70-30 buat RIM yang akhirnya tetep aja untungan pihak sana

walaupun pasti ada pihak2 dalam negeri yg ingin diuntungkan, tapi gue lebih gk rela kalo pihak luar yg untung. begitulah

tobz said...

hehe, bagi link nih...bisa dilihat pendapatnya orang tentang tuntutan pak Tiffie :
http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Wawancana_sekitar_Blokir_BlackBerry

T.Basuki said...

Pro juga buat bang Tiffatul.. :)